Promia Jepang | “Ngobrol Santai PROMIA” Berkarier di Jepang vs Amerika (kisah suka duka merantau di negeri asing)
855
post-template-default,single,single-post,postid-855,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.1,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive

“Ngobrol Santai PROMIA” Berkarier di Jepang vs Amerika (kisah suka duka merantau di negeri asing)

Di tengah situasi pandemik Covid-19 yang semakin merebak di Jepang dan berbagai belahan dunia, pemerintah setempat banyak yang memberikan instruksi para pekerja untuk Work From Home. Hal ini untuk membatasi penyebaran virus corona dengan meminimalisir berkumpulnya orang banyak di luar atau fasilitas umum lainnya.
Nah, dalam rangka memanfaatkan waktu lowong di hari libur sembari tetap aman di rumah, Promia mengadakan diskusi dan ngobrol santai bersama narasumber spesial yaitu abang Tua Namora Nainggolan atau yang akrab dipanggil dengan “bang Ucok”.

Acara: Diskusi dan Ngobrol Santai PROMIA
Tema: Cerita Berkarier di Jepang dan Amerika (kisah suka duka merantau di negeri asing)
Narasumber: Tua Namora Nainggolan (Engineer at Amazon)
MC: Subahagia Rendy (Sojitz Corporation)

Kali ini diskusi dan ngobrol santai dilakukan secara online melalui media Amazon Chime, dimana Narasumber (bang Ucok), MC (Rendy@Sojitz Corp) dan peserta berkumpul di platform tersebut.
Berikut ini ringkasan diskusinya. Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan text atau ejaan yang tidak disempurnakan.

Tanya: Sebelumnya kami ucapkan terima kasih kepada Bang Ucok yang telah menyediakan waktunya. Pertama-tama mungkin bisa diceritakan apa motivasi utama Bang Ucok sekeluarga pindah ke US?

Jawab:
Yang pertama adalah mengenai pendidikan anak. Saya melihat pendidikan di US dengan segala kualitasnya, dapat menunjang tumbuh kembang dan masa depan anak. Komparasi sekolah-sekolah, sekolah negeri (belum pengalaman sekolah swasta) di Jepang terasa kaku, semua belajarnya seragam. Sedangkan di US cukup fleksibel, ada program untuk mendukung pengembangan skill anak secara pribadi (misal, ada pelajaran2 pilihan yang bisa diambil sesuai minat, dan anak bisa mengambil materi kelas atas di luar pelajaran di kelas).

Selain itu, untuk masuk universitas top di Jepang, secara umum perlu melewati “rute” yang ada, seperti sejak SD ikut les untuk “juken” (tes masuk) ke sekolah negeri/swasta yang top supaya bisa memberi materi pelajaran dan lingkungan kompetitif yang bagus untuk menunjang keinginan masuk universitas top. Meskipun selain itu tetap perlu ikut “yobiko” untuk persiapan tes masuk universitas juga nantinya. Ini bisa membuat anak stress dan kehilangan masa senangnya.

Kalau di US, meskipun masih belum tahu detil, cuma bayangannya tidak sampai membuat stress seperti di Jepang. Setidaknya, sekolahnya negerinya memakai sistem rayon wilayah, bukan sistem juken meskipun sekolahnya bagus. Jadi kita “cuma” perlu mencari tahu level sekolah yang diincar dan memilih tempat tinggal yangmasuk rayonnya. Untuk mencari tau level sekolah, bisa menggunakan situs seperti di bawah (itu contoh rating untuk SMP anak). Dan untuk sekolah yang baru, bisa mencoba menduga dengan melihat kondisi keluarga sekitar. Misal, banyak keluarga India dan China, dan/atau keluarga sekitar banyak yang kerja di perusahaan top, dimana informasi umum seperti ini bisa coba ditanyakan ke agen rumah. Keluarga India dan China jadi indikator, karena mereka biasanya mendorong anak-anaknya untuk berprestasi akademik yang bagus, dan tidak sungkan2 (terutama orang India, menurut kabar) untuk komplain ke sekolah kalau dirasa ada yang kurang dalam pengajarannya.
https://www.greatschools.org/washington/redmond/903-Rose-Hill-Middle-School/

Meskipun saya belum pernah mengalami sendiri, tapi yang terbayang perguruan tinggi di US lebih bagus, jadi berminat untuk memasukkan anak ke sana. Cuma biaya yang dibutuhkan sangat besar. Baik universitas maupun sekolah swasta ada program bantuan (keringanan dan/atau beasiswa), hanya saja tidak ada kepastian bisa dapat. Misal untuk sekolah swasta, sekitar 30% anak yang bisa dapat. Jadi meskipun awalnya bermimpi anak bisa masuk universitas seperti Harvard atau Stanford, setelah tahu universitas swasta seperti itu membutuhkan biaya tahunan di atas 30rb USD (tahun 2018-2019, biaya kuliah di Harvard tanpa bantuan adalah 46,340 USD), setelah di sini setidaknya mulai memasukkan universitas negeri sebagai pilihan juga (misal, University of Washington dan University of California). Terutama untuk universitas negeri, biasanya ada biaya khusus untuk penduduk lokal jadi biayanya lebih murah (misal, tahun 2019-2020, meskipun masih lebih mahal dari di Jepang, biaya kuliah University of Washington adalah 11,465 USD untuk penduduk lokal).

Yang berikutnya adalah dari segi karir. Budget di US lebih besar dari di Jepang. Jumlah proyeknya lebih banyak dan isinya lebih bervariasi dengan skala yang besar, dan jumlah dan besar tim/organisasinya pun lebih besar. Jadi lebih banyak peluang untuk menunjukkan impact dari pekerjaan kita untuk menunjang karir, terutama kalau bekerja di tim teknis. Hanya saja, saingannya pun lebih banyak. Sementara di Jepang, jumlah proyek dan skalanya lebih kecil, karena yg diutamakan adalah market Jepang, dimana sesuatu yg sukses di Jepang belum tentu sama hasilnya di US yang marketnya jauh lebih besar. Jadi secara kasat mata, peluangnya terlihat lebih kecil. Meskipun tentunya di sisi lain, jumlah saingannya lebih sedikit, dan dengan sedikit kreatifitas bisa memperlihatkan impact yang menonjol untuk menunjang karir.

2. Mba Mel (istri Bang Ucok) melihat US itu bisa digunakan sebagai buffer kalau mau kembali ke Indonesia dari Jepang. Dimana Jepang punya keteraturan di berbagai lini, sementara US punya dua sisi keteraturan dan layanan yang bolong2. Jepang punya keseragaman, dan US punya keberagaman. Jadi dengan timetable Jepang -> US -> Indonesia, dapat mengkombinasikan seluruh pola pikir dan sudut pandang yg sesuai ekspektasi keluarga Bang Ucok.

3. Di wilayah tempat tinggal Bang Ucok ada masjid yg cukup aktif untuk menunjang pendidikan agama buat anak2, seperti mengadakan kursus maupun khotbah jumat utk anak2. Ditambah karena ada imam masjid di sana yg orang Indonesia, komunitas muslimnya pun cukup aktif dalam mengadakan acara kajian2. Dengan kondisi Washington yg liberal (marijuana legal dan LGBT adalah sesuatu yg biasa), lingkungan muslim seperti ini cukup membantu untuk menjauhkan anak2 dari hal yg tidak kita inginkan.

4. Transportasi publik di Seattle masih kalah dengan yang ada di Jepang, jalurnya tidak terintegrasi baik terutama dibandingkan Kanto dimana kereta bisa masuk sampai ke pelosok dan ada bis untuk ke stasiun. Di Seattle, meskipun ada kereta dan trem dalam kota, tapi kereta yg menghubungkan dengan daerah sekitar yg banyak pemukiman (misal Redmond) masih sedang dalam pembangunan yg mungkin masih perlu 3-5 tahun lagi untuk selesar. Tapi bis beroperasi sampai jam 3 pagi.

5. Awal mula pindahan ke US cukup struggle karena faktor credit score yg dibutuhkan sebagai indikator trust untuk berbagai kebutuhan seperti mengontrak rumah (terutama kalau lewat situs di internet, agen, maupun pengembang). Hanya saja ini seperti masalah telur dan ayam, karena cara untuk mendapatkan credit score adalah dengan mebuka rekening dan kartu kredit lalu setelahnya menunggu untuk beberapa waktu (saya sekitar sebulan setelah mendapatkan kartu kredit), sementara untuk mendapatkan kartu kredit secara umum akan ditanya credit score juga.

Beruntung ada unit koperasi yg ada kerjasama dengan kantor sehingga saya bisa membuka rekening dan kartu kredit dalam beberapa hari pertama setelah datang, dan kantor juga memberi tempat tinggal untuk 75 hari pertama. Tanpa ini, mungkin cukup mustahil saya bisa mengincar tempat tinggal di rayon sekolah yg diinginkan. Hanya saja, kontrakan di US cukup “fluid” ternyata, cukup cepat terisi jadi sulit untuk menggunakan sistem ijon. Dengan kata lain, kalau tandatangan sekarang, kontrak akan dimulai dalam 1-2 minggu ke depan, tidak bisa diundur sampai 1-2 bulan ke depan. Karena itu cukup khawatir juga tidak dapat tempat tinggal memadai di daerah rayon incaran, dan repot mengurus berbagai macam hal apalagi karena waktu itu bertepatan dengan akhir tahun.

6. Sistem wawancara di perusahaan Amerika/asing itu lebih to-the-point, berusaha menggunakan pertanyaan yg detil untuk memerika skill yg ingin dinilai, tidak menggunakan pertanyaan abstrak dan sekedar menanyakan isi past experience seperti pengalaman wawancara di perusahaan Jepang. Sertifikasi, asal kuliah, dan ijazah universitas pun tidak diperhatikan dalam proses wawancara.

7. Mengenai PHK, tidak seperti di Jepang, di US perusahaannya lebih punya keleluasaan untuk memecat pegawai. Bagian HR bisa memanggil pegawai di pagi hari untuk memberitahu keputusan pemecatan, dan pegawai harus segera mengambil barang2 pribadinya dan keluar perusahaan saat itu juga. Salah satu contoh cerita yg bisa didengar adalah video youtube dari “Tech Lead” di link berikut saat dia dipecat dari Facebook. Tapi tentunya pemecatannya harus sesuai dengan aturan perusahaan maupun negara. Karena kalau tidak, pegawai pun bisa mengajukan gugatan balik.

8. Mengenai visa, butuh green card (PR) kalau mau bekerja lama di US. Tidak seperti di Jepang yg visa kerjanya bisa diperpanjang tanpa batas, visa kerja di US atas batas maksimal perpanjangan. Misalnya kalau punya visa L1 (transferee untuk posisi manajerial atau teknis berkebutuhan khusus), batas maksimalnya adalah 7 tahun. Visa H1B kerja yg umum juga ada batas maksimalnya. Dan kalau mau perpanjang visa (misal awalnya dapat 3 tahun dan mau memperpanjang), perlu dilakukan dari luar US. Karena itu tidak jarang didengar ada rekan kerja yg pulang ke negaranya untuk mendapatkan visa stamp (alias memperpanjang visa).

Keuntungan visa L1 adalah suami/istri juga bisa melamar untuk mendapatkan kartu kerja (EAD – Employment Authorization Document), sehingga juga bisa kerja full time di US. Tapi visa L1 terikat dengan tempat kerjanya, tidak bisa pindah kerja ke perusahaan lain. Sementara visa H1B, suami/istri tidak bisa melamar untuk mendapatkan kartu kerja, tapi bisa pindah kerja ke perusahaan lain. Untuk green card, ada kuotanya per negara. Secara umum orang Indonesia peluang mendapatkan green card nya lebih besar daripada orang India dan Cina.

9. Membuat nama panggilan sendiri karena pengalaman orang2 sekitar susah melafalkan nama Ucok. Tanpa diberitahu, terkadang dipanggil Youcok, Youkok, Acok, Akok, dst. Jadinya membuat nama panggilan sendiri, seperti banyak juga dilakukan orang Cina yg namanya juga sering susah dilafalkan.

10. Ingin juga membeli rumah di US, hanya saja nilai jual rumah selalu bergerak naik, dimana sekarang angka mediannya di kisaran 880rb USD. Ditambah rate cicilan yg tidak seperti di Jepang yg bisa di bawah 1%, ini tentunya cukup memberatkan. Kalau pindahnya 5 tahun lalu dimana angkanya masih di kisaran 570rb USD, mungkin tidak terlalu sulit untuk memutuskan membeli rumah.
https://www.zillow.com/redmond-wa/home-values/

11. Mengenai pajak, ini bergantung tempat tinggal. Untuk pajak penghasilan, ada pajak untuk State (negara bagian) dan ada pajak untuk pusat (Federal). Di Washington, pajak untuk State tidak ada. Ditambah pajak/potongan yg lain, kalau tidak salah di Jepang kena potongan 26%-an, di sini kena potongan 28%-an. Tapi asuransi kesehatan bisa milih dari beberapa program yg ada. Angka potongan 28% yg disebut adalah untuk program asuransi kesehatan yg biayanya di tengah. Sementara kalau memilih yg biaya minimum bisa berkurang 1-2%, dan kalau memilih biaya maksimum, potongannya bisa bertambah 1-2% lagi.

12. Mengenai keamanan, ini juga bergantung tempat tinggal. Sebisa mungkin menghindari tempat yg banyak homeless nya, dan coba mencari tempat yg tingkat ekonomi dan pekerjaan dari orang2 sekitarnya cukup baik. Sementara dari segi negara bagian, pertama, cobalah mencari lokasi yg “demokrat” dimana secara umum lebih, dan kalau bisa mendapatkan data lebih detilnya, incarlah area yg “lebih demokrat” di dalam negara bagian tersebut. Ini untuk menghindari isu2 rasial yg banyak dikeluarkan oleh pendukung “republik”. Link di bawah memberikan map lebih detil mengenai level “demokrat-republik” di dalam negara bagian untuk tahun 2018. Redmond, tempat tinggal sekarang, adalah yg berwarnai biru paling gelap di pojok kiri atas. Seattle, tempat kerja sekarang, ada di sisi kirinya, berwarna biru yg satu level di bawah.
https://www.bbc.com/news/world-us-canada-46076389

Pertanyaan tambahan dari Rendy:
1. Di US juga ada PROMIA versi sana kah? Professional Indonesia Muslim United State (PRIMUS) (?) Klo ada, apa Bang Ucok juga gabung? Dan gmn ekosistemnya?
Jawab: Belum tau ada PRIMUS di sini, karena kenalan2 orang Indonesia di sini juga tidak mengenalkan tentang PRIMUS.

2. Penanganan disaster di US seperti apa ya in general? Bgmn jika dibandingkan dgn Jepang? Apakah first aid, simulasi penanganan bencana, camera pemantau, dll juga di-set up?
Jawab: Sepertinya mengenai penanganan disaster, Jepang lebih terprogram dengan baik oleh pemerintah. Kalau di US, secara umum sepertinya harus mandiri baik secara pribadi maupun komunitas. Karena itu, di US banyak sekali komunitas2 yg aktif memberikan bantuan, misalnya Masjid MAPS yg menyalurkan bantuan bagi yg membutuhkan karena terdampak covid-19 (https://www.mapsredmond.org/covid-19/), atau komunitas lain yg misalnya mengumpulkan baju bekas. Jadi meskipun dari pemerintah mungkin tidak ada program secara khusus untuk menghadapi situasi bencana, inisiatif dari komunitas2 (termasuk juga perusahaan) yg ada bisa dijadikan tempat untuk mendapatkan bantuan.

No Comments

Post A Comment