Promia Jepang | Hukum Fitts dan Usability Ponsel Pintar
293
post-template-default,single,single-post,postid-293,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.1,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive

Hukum Fitts dan Usability Ponsel Pintar

ditulis oleh Bondan Setiawan, M.Eng*)

Sebagian orang berpendapat bahwa salah satu kunci kesuksesan iphone adalah terobosan Apple dalam teknologi layar sentuhnya. Banyak pengamat yang mengatakan, ponsel pintar dengan layar sentuh baru menjadi sesuatu yang betul-betul usable setelah iPhone muncul. Sebagai informasi tambahan, sebelum munculnya iPhone, pada umumnya ponsel pintar berteknologi layar sentuh dioperasikan dengan stylus pen, dengan System Operasi Microsoft Windows Mobile. Inilah yang kemudian menjadi bahaan cemoohan mendiang Steve Jobs ketika memperkenalkan produk ponsel pertamanya ke pasaran, “Siapa yang butuh stylus pen?”.

Menurut penulis, selain terobosan pada teknologi layar sentuh secara piranti keras, ada juga yang menjadi faktor penting di sisi piranti lunak, yaitu Graphical User Interface (GUI)-nya. Pada tulisan ini penulis mencoba menggali satu alasan yang mungkin menjadikan iPhone sebagai piranti yang usable bagi penggunanya.
Berbicara mengenai GUI, tahukah Anda Mengapa menu bar pada aplikasi Macintosh (Mac) selalu muncul di tepi atas monitor? Sebagai
pembanding, menu bar pada aplikasi Microsoft Windows (MS Windows) berada di window aplikasi tersebut. Menu bar yang penulis maksud adalah tempat dimana menu “File”, “Edit”, “View” dan lain-lain ditempatkan.

menu_bar

Bagi orang yang baru pertama kali menggunakan Mac, mungkin
bertanya-tanya mengapa menu bar yang seharusnya berada di setiap window aplikasi harus selalu berada di tepi atas layar. Sambil nanti akhirnya menjawab, kita coba gali apa kelebihan strategi Apple meletakkan menu bar di tepi atas layar.
Ada sebuah hukum dasar dalam desain GUI berbunyi, “Ketika seseorang menggunakan sebuah piranti penunding (pointing device), kecepatan mencapai sebuah objek GUI (misalnya tombol menu) bergantung pada ukuran objek, dan jarak objek dari posisi awal pointer menuju objek tersebut.” Semakin besar ukuran dan semakin dekat jarak sebuah tombol menu, semakin mudah kita mengklik tombol tersebut. Teori ini sepertinya dapat dengan mudah kita pahami misalnya dengan membayangkan bila sebuah tombol terlalu kecil, seseorang perlu berhati-hati mengontrol mousenya agar pointer bisa pas di atas posisi tombol menu. Semakin berhati-hati tentunya akan memakan waktu lebih lama. Tapi bila tombol menu itu lebih besar, maka akan lebih cepat dicapai.

Untuk lebih memahami tentang Hukum Fitts, kita coba angkat salah satu fenomena dimana Hukum Fitts bekerja. Kita coba amati layar monitor komputer. Kita tahu bahwa layar monitor komputer itu memiliki batas fisik sehingga pointer mouse, misalnya, tidak akan mungkin keluar dari tepi-tepi layar. Bila pengguna menggerakkan mouse seolah-olah ingin mengeluarkan pointer ke luar layar, maka pointer tersebut akan tertahan di tepi layar monitor.

Bayangkan apabila di tepi layar kita letakkan tombol menu, maka untuk mengakses tombol itu, selama arahnya benar, maka sebesar apa pun pengguna menggerakkan mouse dengan tangannya, maka pointer akan tertahan di tepi layar, di atas tombol menu tersebut. Artinya pengguna tidak perlu terlalu-berhati-hati mengontrol besar gerakannya. Dengan kata lain si pengguna bisa lebih cepat dan mudah mengakses tombol tersebut. Bila dilihat dari sudut pandang Hukum Fitts, yang terjadi pada objek yang diletakkan di tepi layar adalah secara virtual ukuran objek itu menjadi sangat besar, bahkan mungkin tak berhingga. Ini yang menyebabkan kecepatan mengakses objek tersebut menjadi sangat tinggi.

Di sini kita bisa tarik kesimpulan bahwa penempatan menu bar pada tepi layar akan memberikan kemudahan bagi pengguna, dan ini menjadi salah satu hujjah dari orang-orang yang menganggap Mac lebih mudah digunakan dari MS Windows, setidaknya dari sisi menu bar.

Tentunya ada juga jawaban dalam perspektif berbeda dari pertanyaan mengapa Apple meletakkan menu bar Mac di tepi atas layar sementara MS Windows tidak. Ada sebuah teori yang menyatakan Apple sudah mem-patent-kan posisi menu bar untuk selalu di atas. Tapi kemudian sepertinya Microsoft sudah menemukan “pilihan”-nya yang lain yang juga dirasa memuaskan. Yang mana yang sebetulnya lebih baik? Tentunya dikembalikan ke masing-masing pengguna. Karena masih banyak faktor yang menentukan usability. Penulis yakin kebiasaan menggunakan adalah salah satu faktor penting.

Tidak terhenti pada menu bar, kita juga tahu bahwa di MS Windows, tool bar di letakkan di tepi bawah layar. Kita bisa lihat bahwa pemanfaatan tepi tepi layar juga ada dalam MS Windows. Dan sebagai tambahan, seandainya satu tepi saja bisa menjadikan objek meniadi sangat mudah dicapai, bagamana dengan pojok-pojok layar yang memiliki dua tepi? Tentunya pojok-pojok ini sangat-sangat strategis karena ukuran virtual objek yang berada di sini akan lebih besar dari objek-objek yang berada di tepi saja. Posisi “Start Menu” pada MS Windows dan “Apple Menu” pada Mac yang berada di pojok layar mungkin bisa kita lihat sebagai bukti penggunaan Hukum Fitts pada System Operasi.
Sekarang kita coba hubungkan Hukum Fitts dengan kunci kesuksesan iPhone. Hukum Fitts dinyatakan dengan rumus berikut,

dimana T adalah waktu yang diperlukan untuk mengakses objek sasaran, D adalah jarak dari posisi awal pointer ke objek sasaran, W adalah lebar (besar) objek sasaran, a dan b adalah parameter khas untuk setiap device yang berbeda.

Dari rumus tersebut kita tahu semakin dekat jarak maka waktu untuk akses menjadi semakin singkat (semakin cepat). Lalu selain jarak dan besar objek, ada faktor lain yang mempengaruhi kecepatan, yaitu a dan b. Parameter a dan b adalah parameter unik yang dimiliki masing-masing piranti penunding. Piranti penunding yang satu dan yang lain akan memiliki nilai a dan b yang berbeda. Sesama mouse komputer pun bila material atau strukturnya berbeda, kemungkinan memiliki nilai parameter a dan b yang berbeda.
Sekarang kita coba bandingkan penggunaan mouse dan layar sentuh. Ketika posisi awal pointer dan besar objek sasaran sama (D dan W sama), dibanding menggerakkan mouse dengan tangan supaya pointer bisa berada di atas objek sasaran, akan lebih cepat menggerakkan jari secara langsung ke objek itu. Merujuk ke rumus Hukum Fitts, ketika D dan W sama tetapi T pada layar sentuh kurang dari mouse, kita bisa simpulkan layar sentuh bisa memiliki nilai-nilai parameter a dan b yang lebih baik. Inilah yang menyebabkan secara umum layar sentuh akan lebih efektif sebagai piranti penunding dibanding mouse.

Tetapi ketika berbicara tentang iPhone, terobosannya tidak terhenti sampai pemanfaatan layar sentuh saja. Apple melakukan beberapa terobosan tambahan memperbaiki parameter a dan b tadi dari sisi piranti keras. Dari sisi piranti lunak (GUI), icon-icon menu pada iPhone secara umum dibuat relatif berukuran besar sehingga tidak perlu lagi menggunakan stylus pen untuk mengoperasikannya, cukup dengan jari-jari secara langsung secara cepat. Inilah mungkin salah satu alasan iPhone bisa sukses, banyak disebut-sebut piranti yang intuitive dan banyak ditiru ponsel pintar lain yang muncul kemudian.

Demikian paparan penulis tentang Hukum Fitts dan usability ponsel pintar. Tentunya Hukum Fitts tidak terhenti pada piranti penunding layar sentuh saja. Akhir-akhir ini kita mungkin mendengar ada teknologi user interface yang baru memanfaatkan teknologi “eye gaze detection” atau “gesture detection”. Terhadap user interface baru tersebut, kita bisa menggunakan Hukum Fitts untuk secara objektif membandingkan efektifitasnya dari sisi kecepatan dengan mouse komputer atau layar sentuh. Dan dari hasilnya kita bisa menyatakan apakah teknologi user interface baru itu betul-betul usable.

Referensi:
http://tips.vlaurie.com/2011/10/why-the-iphone-was-a-breakthrough/ http://en.wikipedia.org/wiki/Fitts%27s_law
http://www.asktog.com/basics/firstPrinciples.html#fittsLaw

*) Penulis adalah lulusan dari Graduate School of Engineering Tohoku University tahun 2007. Sejak itu menjadi Research-Engineer di Hitachi, Ltd. Jepang. Pernah berkecimpung dan tertarik dalam bidang Human Computer Interaction (HCI).

No Comments
  • Lili
    Posted at 14:01h, 08 June Reply

    Jadi sebenernya stylus pen itu lebih duluan ya dibandingin sama touch yang sekarang hooo.

Post A Comment