Promia Jepang | Keunikan Evolusi Perangkat Lunak dan Industri Teknologi Informasi di Jepang
761
post-template-default,single,single-post,postid-761,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.1,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive

Keunikan Evolusi Perangkat Lunak dan Industri Teknologi Informasi di Jepang

Oleh: Pulung Waskito *)
https://www.linkedin.com/in/pulungwaskito/

 

Pengantar

Jepang terkenal dengan teknologi yang canggih dan maju. Kita dengan mudah menyebut nama-nama produk elektronik Jepang yang terkenal di dunia seperti Sony Walkman, video game Nintendo, kamera DSLR Canon dan Nikon, alat musik Yamaha, jam tangan Casio dan Seiko, perangkat Hitachi, Toshiba, Panasonic. Namun apakah kita bisa menyebut nama produk perangkat lunak (software) bikinan Jepang yang terkenal di dunia?

Di artikel ini saya mencoba menekankan betapa uniknya evolusi perangkat lunak dan industri teknologi informasi di Jepang, yang membuatnya berbeda bila dibandingkan dengan negara maju lain-nya. Saya akan mencoba menjelaskan dari 2 sisi; sisi perkembangan industri perusahaan (producer) perangkat lunak Jepang sendiri, dan sisi budaya perusahaan pengguna (users/consumers) perangkat lunak  Jepang.

Untuk penjelasan yang lebih detil, harap dibaca referensi [1][2] yang ditulis oleh para ahli di bidang ini. Tulisan ini hanya rangkuman artikel tersebut plus opini singkat dari penulis.

 

Perkembangan Perangkat Lunak di Industri Jepang — Sisi Produsen

Apakah perbedaan industri perangkat lunak  di Jepang dengan negara lain? Industri teknologi informasi di Jepang tumbuh di tengah-tengah suksesnya sektor manufaktur dan elektronika Jepang yang terkenal dengan istilah “Monozukuri”. Monozukuri menargetkan produk dengan kualitas perangkat keras yang tinggi, dimana perusahaan Jepang terus menerus memperbarui proses manufaktur mereka untuk mencapai kesempurnaan dan ketelitian. Pola pikir yang berdasar pada monozukuri inilah yang menjadi dasar perusahaan Jepang dalam membuat perangkat lunak  [1].

Maka dari itu, banyak perusahaan high-tech di Jepang yang menyamakan proses pembuatan perangkat lunak  dengan proses pembuatan perangkat keras, “Software Factory” istilahnya [2]. Di sini yang paling penting adalah waktu penghantaran (delivery time), kualitas, dan pengurangan biaya dalam pembuatan perangkat lunak sebagaimana halnya dengan proses pembuatan perangkat keras (hardware). Proses ini menekankan pemakaian prosedur yang terstandarisasi dan penggunaan ulang modul perangkat lunak, sebagaimana halnya jalur manufaktur di pabrik. (Sebagai referensi, perusahaan pertama di dunia yang mengadopsi pabrik perangkat lunak ini adalah Hitachi di tahun 1969, dengan dibangunnya divisi Software Works di Yokohama.)

Namun, faktor hardware-sentris inilah yang sebenarnya menjadi penghalang bagi inovasi perangkat lunak di Jepang. Perangkat lunak di Jepang tumbuh dengan dilihat hanya sebagai alat untuk mengoperasikan perangkat keras, bukan sebagai produk independen yang menghasilkan nilai sendiri. Di perusahan high-tech kebanyakan pemimpinnya adalah orang yang berasal dari bagian perangkat keras. Semua pabrikan lebih fokus ke pembuatan perangkat keras yang membuat sektor perangkat lunak independen di Jepang susah tumbuh, maka dari itu jarang kita temukan start-up, dan sedikit perusahaan yang murni berfokus untuk membuat produk perangkat lunak, kecuali industri game; tapi itu topik diskusi untuk di lain waktu 🙂

Negara maju lain tidak memiliki sektor manufaktur yang canggih seperti Jepang, sehingga tidak ada tekanan untuk meniru proses pembuatan perangkat lunak dalam membuat perangkat lunaknya. Mereka cenderung lebih bebas dan kreatif dalam membuat dan menggunakan perangkat lunak. Hal ini menghasilkan banyak start-up independen, seperti di Silicon Valley, Amerika (Jerman menurut saya merupakan negara yang unik, sektor manufaktur dan juga industri perangkat lunaknya maju, perangkat lunak SAP sukses merajalela ke seluruh dunia, berbeda dengan Jepang).

 

Budaya IT Perusahaan Jepang — Sisi Konsumen

 Sisi lain adalah budaya perusahaan Jepang sendiri sebagai pemakai perangkat lunak (users/consumers). Extreme customization dan extreme outsourcing adalah gambaran dominan model industri IT di Jepang [1].

Customization bermakna perusahaan Jepang menekankan bahwa sistem IT harus bekerja sesuai dengan bagaimana mereka menjalankan usaha, yakni harus dibangun disesuaikan dengan apa yang mereka perlukan. Sistem IT dilihat sebagai cara mengurangi biaya operasional perusahan. Berbeda dengan perusahaan Amerika/Eropa yang menilai IT sebagai kesempatan untuk membuat nilai baru dalam bentuk produk maupun jasa.

Saya pernah berbicara dengan seorang head leader sebuah perusahaan jasa layanan IT di London, Inggris. Dia mengatakan bahwa pelanggan di Inggris cenderung mau untuk mengubah cara mereka melakukan usaha dengan menyesuaikannya sesuai dengan paket perangkat lunak yang mereka beli dan terapkan. Cara pikir yang sangat berbeda dengan pelanggan di Jepang.

Outsourcing bermakna perusahaan besar di Jepang cenderung membuat anak perusahaan, subsidiary, khusus untuk mengerjakan fungsi IT mereka, dengan harapan mengurangi biaya (lower salary, lower number of staff). Anak perusahaan inilah yang lalu bekerja dengan System Integrator, Software Vendor, dan subkontraktor lainnya. Inilah yang menghasilkan banyaknya perusahaan System Integrator domestik di Jepang, mereka jarang memiliki produk perangkat lunak sendiri, namun memiliki banyak pekerja IT (SIer – istilah unik yang hanya dipakai di Jepang) untuk membangun sistem perangkat lunak yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan tersebut. Pelanggan ibaratnya sebagai raja dengan berbagai macam permintaan, dan para SIer berusaha memenuhi keperluan mereka.

Hal ini berbeda dengan perusahaan Amerika/Eropa yang cenderung memiliki departemen IT khusus di dalam perusahaan itu sendiri, dengan pekerja yang memiliki kemampuan teknis yang tinggi dan membuat perangkat lunak in-house berkualitas tinggi untuk bisnis mereka sendiri. Juga tidak jarang banyak perangkat lunak in-house mereka yang dikeluarkan dan dijual untuk dipakai di luar.

Budaya industri IT Jepang ini sebenarnya kalau dilihat dengan seksama mirip dengan industri lain, yaitu “Zenekon” alias kontraktor di bidang industri konstruksi. Di sini pelanggan bekerja dengan arsitek untuk merancang bangunan, namun pekerja lapangan yang benar-benar membangun bangunan dan gedung tersebut adalah pekerja kontrak blue-collar. Kita bisa melihat pemandangan yang sama di lapangan kerja industri IT di Jepang.

Bila kita merasakan bagaimana praktisnya hidup di Jepang, maka berterima kasihlah kepada para pekerja IT yang bekerja siang-malam 24 jam 365 hari di belakang layar. The unseen, unheard, untold.

 

Kesimpulan

Begitulah gambaran keunikan evolusi industri perangkat lunak di Jepang. Selama pembangun perangkat lunak di Jepang lebih banyak mengerjakan perangkat lunak yang dikustomisasi untuk pelanggan, masih ada rintangan bagi industri perangkat lunak Jepang untuk berinovasi menjadi lebih maju. Seperti yang telah saya tanyakan di awal, apakah kita bisa menyebut nama produk perangkat lunak buatan Jepang yang terkenal di dunia sekarang? Semoga dengan maraknya teknologi baru seperti aplikasi mobile, artificial intelligence, machine learning, siapa tahu bakal lahir perangkat lunak independen yang terkenal dari Jepang di masa depan.

Saya akhiri artikel ini dengan kata-kata yang pernah saya baca untuk menggambarkan budaya Jepang, “Fascinating to observe, lovely to interact, yet impossible to understand”. Kesan itu yang saya rasakan dalam bekerja di bidang industri perangkat lunak di Jepang selama ini. Semoga bisa menjadi gambaran buat pembaca.

 


*) Pulung Waskito
*) Penulis pernah bekerja sebagai Software Engineer di Hitachi Ltd., Software Division (penerus Hitachi divisi Software Works) dari tahun 2011-2016. Sekarang penulis bekerja sebagai Senior Consultant  bidang analytics software di SAS Institute Japan Ltd.

 

Acuan

 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.