Promia Jepang | Menuju Musyahadah Tauhid
734
post-template-default,single,single-post,postid-734,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.1,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive

Menuju Musyahadah Tauhid

Cerita pengalaman haji oleh Ahmad Atsari Sujud

(Musyahadah[1])

Belum pernah terbersit dan terpikir sebelumnya untuk menunaikan ibadah haji dari negeri orang, sampai suatu ketika sang istri yang sedang melanjutkan studi di Jepang mengungkapkan keinginannya untuk dapat berangkat haji dari Jepang. Berbeda dengan di tanah air, berangkat haji dari Jepang dapat langsung berangkat tanpa harus menunggu bertahun-tahun karena kuota haji yang tersedia masih sangat banyak. Ketika itu penulis masih berada di Indonesia sehingga belum menanggapi dengan serius karena terpikir bagaimana bisa berangkat dan belum lagi biayanya tidak tahu dari mana. Qodarullah, ternyata Allah menganugrahkan kesempatan untuk tinggal di Jepang dengan diterimanya penulis di salah satu perusahaan Jerman yang beroperasi di Jepang. Dari sini mulai ada secercah peluang memenuhi ajakan sang istri untuk pergi menunaikan ibadah haji dari Jepang. Dari interaksi dengan teman-teman muslim Indonesia yang tinggal di seputar Tokyo dan adanya ajakan dari sang istri, kesadaran hati untuk berazam menjadi tergugah, sehingga timbul tekad kuat untuk mewujudkan niatan suci menunaikan ibadah haji. Setelah mengikuti beberapa kajian keislaman tentang haji yang diselenggrakan komunitas muslim di Jepang, semakin kuatlah keinginan untuk mewujudkan ibadah haji dari Jepang.

Terpikir saat itu, dua hal yang mutlak harus dan perlu dipersiapkan guna mewujudkannya yaitu menghitung sumber pendanaan untuk memenuhi biaya haji dan (tentunya yang tidak kalah penting) berusaha mendapatkan ijin cuti dari perusahaan tempat bekerja. Mendapatkan ijin dari perusahaan tempat bekerja adalah suatu tantangan tersendiri mengingat penulis termasuk karyawan baru dengan masa kerja saat itu kurang dari satu tahun. Berdasarkan perhitungan di atas kertas, dari penghasilan berupa gaji yang dapat disisihkan untuk ditabung sampai dengan deadline yang ditentukan oleh biro perjalanan haji, rasanya cukup untuk dapat memenuhi biaya haji untuk dua orang, yakni penulis dan istri. Biaya haji di Jepang yang ditentukan oleh biro perjalanan haji yang kami ikuti adalah sebesar 680.000 yen untuk setiap orang. Dengan demikian setidaknya kami harus bisa menabung sebesar 1.360.000 yen. Tentu saja jumlah tersebut belum termasuk uang saku guna membeli beberapa keperluan selama tinggal di Arab Saudi serta membeli buah tangan. Setelah musim haji tahun 2016 selesai, penulis langsung menghubungi biro perjalanan haji yaitu Mian International untuk mendapatkan kepastian tanggal keberangkatan dan kepulangan ibadah haji tahun 2017. Bulan Agustus 2016, setelah penulis mendapatkan konfirmasi kepastian dari Mian tentang tanggal keberangkatan dan kepulangan haji, penulis langsung mengajukan ijin cuti melalui email ke atasan dengan melampirkan brosur haji. Saat itu atasan penulis sedang berdinas ke luar negeri sehingga permohonan ijin penulis kirimkan lewat email. Hanya berselang satu hari penulis menerima email balasan bahwa penulis diijinkan untuk mengambil cuti selama tiga minggu. Sehari setelah mendapat persetujuan cuti maka penulis langsung mendaftar haji pada Mian International dengan membayarkan uang muka sebesar 300.000 yen.

Setelah pulang dari dinas luar negeri atasan menyampaikan agar langsung mengajukan cuti melalui sistem online yang ada di perusahaan. Atasan mengatakan bahwa hal tersebut mudah diatur kalau mengajukan cuti jauh hari sebelumnya. Di luar dugaan, atasan bertanya apakah penulis tidak takut berada di tengah kerumunan orang sebanyak itu dengan area yang terbatas. Rupaya dia melihat gambar orang tawaf yang ada di brosur haji yang penulis lampirkan di email. Penulis menjawab tidak takut, meskipun memang bisa ada kemungkinan terjadi kerusuhan dan bisa saja mengakibatkan korban jiwa.

Penulis merasa bersyukur sekali bisa mendapatkan ijin cuti yang cukup panjang yaitu 3 minggu meskipun masa kerja baru kurang dari 1 tahun. Hal ini merupakan salah satu kemudahan yang diberikan oleh Allah dalam upaya mewujudkan niat ibadah haji.

Hubungan kami dengan biro perjalanan haji hanya sebatas melalui telepon dan email. Demikian juga saat pendaftaran haji dilakukan melalui email, sehingga ada saat sedikit keraguan dengan metode pembayaran melalui transfer elektronik. Namun dengan menyerahkan prosesnya kepada Allah, semua keraguan tersebut dapat ditepis. File formulir pendaftaran kemudian kami isi dan persyaratan dokumen awal seperti kopi paspor dan kartu penduduk Jepang kami scan dan dilampirkan di dalam email. Sehari setelah bukti transfer kami kirimkan, penulis menerima email balasan konfirmasi dari Mian Internasional bahwa pendaftaran haji sudah diterima.

Hari-hari setelah pendaftaran haji, kami mulai sering memperhatikan rekening karena jangan sampai tabungan berkurang oleh konsumsi sehari-hari. Maklum saat itu belum dibedakan antara rekening tabungan dan rekening untuk kebutuhan sehari-hari.

Sembari setiap bulan menabung, tahap selanjutnya adalah mulai membaca-baca dan mencari berbagai informasi tentang ibadah haji, baik dari media cetak berupa buku atau media elektronik (rekaman ceramah berupa audio atau video). Penulis juga menghadiri acara berkaitan dengan haji yang diselenggarakan komunitas muslim Indonesia di Jepang. Setidaknya ada tiga kajian yang sering penulis ikuti yaitu FORKITA (Forum Kajian Islam Tokyo dan Sekitarnya), PP Kanto (Pengajian Profesional Kanto) dan kajian yang diselenggarakan oleh KMII (Keluarga masyarakat Islam Indonesia). Manasik haji sudah penulis ikuti setahun sebelum keberangkatan. Selain mencari ilmu tentang amalan-amalah yang dilakukan pada saat ibadah haji, mengikut manasik ternyata dapat semakin mengukuhkan tekad untuk menunaikan ibadah haji. Dengan menghadiri kajian keislaman tersebut, penulis mendapatkan pemahaman agar dapat membekali diri dengan pengetahuan dan ilmu tentang praktik-praktik manasik haji. Orang tua yaitu Ibu yang ada Surabaya ketika penulis menelpon untuk meminta doa restu, berulang-kali menekankan untuk mempelajari tata-cara ibadah haji. Buku pertama yang dibaca saat itu adalah tentang doa-doa berkaitan dengan ibadah haji. Ketika membacanya, penulis membayangkan banyak sekali doa-doa yang harus dihafalkan.

Sampai setelah Ramadhan, seorang teman yang sama-sama tergabung dalam JAS (Jamaah Aobaku Subuhan) mengajak bergabung dalam grup Line yang beranggotakan orang-orang Indonesia yang berangkat haji dari Jepang melalui biro perjalanan Mian International. Informasi dan pengetahuan tentang haji semakin banyak diperoleh dari grup tersebut, termasuk beragam informasi tentang berbagi pengalaman haji dari Jepang. Namun juga ada informasi tentang ketidakpuasan terhadap biro perjalanan haji sehingga menimbulkan keraguan di hati. Sempat terpikir apakah biro perjalanan ini yang tepat untuk dipilih, apakah mereka dapat mengantarkan dan menyediakan fasilitas yang nyaman. Saat ini yang terbayar masih hanya uang muka saja, jadi masih ada kemungkinan untuk pindah ke biro perjalanan yang lain. Alhamdulillah keraguan yang timbul tersebut dapat ditepis melalui pesan seorang ibu dalam salah satu acara kajian manasik haji yang diselenggarakan oleh KMII. Beliau mengingatkan kembali tentang tujuan berhaji, tentang menguatkan dan mengikhlaskan niat, dan juga menyampaikan bahwa biro perjalanan haji adalah hanya sarana dalam aspek duniawinya saja. Dari cerita yang dibagikan oleh salah seorang jamaah haji tahun sebelumnya yang berhaji melalui Mian diperoleh informasi bahwa saat itu tidak ada imam atau pemandu haji dalam rombangan tersebut. Berdasarkan cerita ini, penulis tergugah dan termotivasi untuk belajar dan menguasai tata cara ritual ibadah haji dengan tujuan untuk dapat menunaikan seluruh ritual haji dengan baik sesuai sunnah Rasul secara mandiri tanpa tergantung dari ada atau tidaknya pembimbing haji.

Saat penulis sudah memulai mempelajari seputar ibadah haji dari beberapa sumber yang ada, istri belum dapat melakukan hal yang sama. Saat itu istri masih terfokus pada persiapan berbagai hal yang berkaitan dengan disertasi doktoralnya yang sudah memasuki tahap akhir, dan hanya tingal beberapa minggu saja menuju ujian akhir disertasi. Saat menjelang keberangkatan, ternyata banyak hal dan pengetahuan tentang haji yang justru penulis terima dari istri. Di sini kami merasa ibadah haji yang akan kami alami ini mengajarkan hikmah bahwa kemudahan dan kelancaran seluruh prosesnya, mulai dari persiapan hingga kepulangan, semata-mata adalah karunia dari Allah SWT.

Semakin berusaha untuk belajar tentang bagaimana melakukan ritual ibadah haji, kami semakin tergerak untuk mempelajari hal yang lebih luas dari syariat atau fiqih haji, misalnya mengenai makna-makna dari setiap ritual manasik haji dan juga sejarah ibadah haji. Dengan diiringi keinginan untuk mencoba menata ulang dengan rinci hal-hal yang sudah dipahami melalui mempertanyakan dan mencari jawaban dari setiap hal tersebut, sepertinya penulis merasa makin memahami konsepsi haji. Ketika menjalankan ibadah haji secara langsung di Saudi Arabia, konsepsi ini memberikan manfaat tentang penghayatan ibadah haji melalui pengalaman dan merasakan langsung ruh atau esensi haji, wallahu a’lam.

Semakin mempelajari tentang haji, semakin banyak yang ingin diketahui dan yang ini dicoba untuk terus dipertanyakan mengenai hal-hal krusial yang berkaitan dengan haji. Misalnya, mengapa sebaik-baiknya bekal haji adalah taqwa, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah: 197 yang artinya “Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” Pertanyaan tersebut terjawab begitu menjalani ibadah haji secara langsung, baik ketika di Mekkah atau Madinah yang merupakan dua tanah suci yang mulia. Seringkali penulis menerima saran dan nasihat sebelum berangkat haji untuk selalu bersabar dan bersabar ketika menjalani ibadah hati. Ternyata penulis merasakan sendiri saat menjalani ibadah haji bahwa memang dibutuhkan sesuatu yang melebihi sabar itu sendiri, yakni ketakwaan. Bila kita lihat hadits tentang bacaan doa yang diucapkan oleh sahabat dan sanak keluarga yang melepas jamaah haji, doa tersebut mengandung makna agar Allah mengkaruniakan bekal ketakwaan kepada orang yang berhaji tersebut.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ سَفَرًا فَزَوِّدْنِى. قَالَ « زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى ». قَالَ زِدْنِى. قَالَ « وَغَفَرَ ذَنْبَكَ ». قَالَ زِدْنِى بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى. قَالَ « وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ »

Dari Anas, ia berkata, “Seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, aku ingin bersafar, bekalilah aku.” Beliau bersabda, “Zawwadakallahut taqwa (semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan).” “Tambahkan lagi padaku”, mintanya. Beliau bersabda, “Wa ghofaro dzanbaka (semoga Allah mengampuni dosamu).” “Tambahkan lagi padaku, demi ayah dan ibuku”, mintanya. Beliau bersabda, “Wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (semoga Allah memudahkanmu di mana saja engkau berada).”  (HR. Tirmidzi no. 3444. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)[2].

Penulis juga merenungkan makna dari QS Al Baqarah: 196 yang artinya, sempurnakanlah haji dan umrohmu semata-mata karena Allah. Menjadi pertanyaan besar saat itu, bagaimana mewujudkan agar dalam melaksanakan ibadah haji dan umroh ditujukan hanya untuk Allah SWT saja. Penulis sempat menanyakan hal tersebut ke dua orang ustadz dalam dua pengajian yang berbeda. Penulis merasakan bahwa ini adalah hal yang fundamental yang mendasari bangunan ibadah haji bagi pelaksananya. Hal tersebut berkaitan dengan niat. Penulis teringat hadist arbain yang biasa kami baca secara bergantian setelah sholat shubuh berjamaan (JAS) di masjid Yokohama yang biasa kami lakukan sepekan sekali karena keterbatasan transportasi dalam menempuh jarak yang agak jauh. Setelah membaca buku dan menyimak dari media elektronik lainnya seperti video, penulis merasa tibalah waktunya untuk mulai membuat ringkasan termasuk doa yang berkaitan dengan haji pada buku saku yang dapat dibawa kemana-mana. Dengan menuangkannya dalam tulisan setidaknya penulis sudah melakukan upaya untuk mengulang apa yang sebaiknya dibaca dan dipejari sebelumnya. Selain itu, dengan ukuran yang kecil mudah dibawa kemana-mana, tulisan ini dapat dibaca kembali di setiap saat ketika diperlukan. Banyak juga penulis lihat teman-teman membeli buku panduan haji yang sudah dicetak dalam ukuran kecil yang bisa dimasukkan saku atau dikalungkan di leher. Salah seorang jamaah haji yang orang Jepang asli menggunakan cara yang sedikit berbeda. Karena literatur haji dalam bahasa Jepang masih sangat terbatas, dia mengkopi salah satu literatur haji dalam bahasa Jepang kemudian diperkecil ukurannya lalu dipotong-potong dan ditempel di buku saku. Penulis melihat ketika di pesawat menuju Arab Saudi, beliau membuka dan membacanya.

Menjelang hari-hari keberangkatan ke Baitullah semakin dekat, Alhamdulillah istri dapat dengan sukses menyelesaikan seluruh proses ujian program doktornya sehingga dapat memfokuskan diri untuk belajar tentang haji. Kami saling bertukar informasi, sehingga ketika ada beberapa pertanyaan tentang haji yang belum dapat penulis temukan jawabannya, penulis memperoleh jawabannya dari informasi ceramah yang diberikan istri. Pertanyaan itu misalnya tentang bagaimana prosesi ibadah haji berkaitan erat dengan ketauhidan, sehingga kemurnian dan kejernihan tauhid dapat diperoleh oleh yang melaksanakannya.

Setelah melalui pencarian di internet, akhirnya penulis mendapatkan buku elektronik panduan haji yang cukup ringkas dan tentunya sesuai sunnah Rasulullah SAW. Dalam buku tersebut diterangkan bahwa tidak perlu menghafal doa yang banyak dan panjang, tetapi cukup membaca doa-doa tersebut dari buku saat melakukan ritual ibadah haji, termasuk doa-doa yang dapat dibaca pada saat wukuf di Arofah. Buku tersebut berjudul Panduan Haji dan Umroh berdasarkan AlQur’an dan AsSunnah yang ditulis oleh Abu Kayyisa Zaki Rakhmawan. Buku tersebut dapat dijadikan sebagai panduan (muthawwif) haji yang dapat membantu dalam melakukan segala ibadah yang berkaitan dengan haji, sekaligus dapat digunakan sebagai pengingat apabila lupa. Buku ini dilengkapi dengan dalil yang lengkap dengan menyertakan nomor‐nomor hadits dan sumber buku acuan. Hal ini menunjukkan bahwa buku tersebut merupakan karya ilmiah yang memiliki bukti otentik dalam mengacu kepada dalil yang jelas sehingga pembaca akan lebih yakin dan tidak ada keraguan dalam mengikuti materi yang ada di buku tersebut.

Semakin mendekati waktu keberangkatan, penulis semakin gundah dan gusar. Muncul kekhawatiran bagaimana nanti ketika di Mekkah, misalnya. Kota suci yang banyak orang mengatakan akan langsung membalas atau menampakkan akibat dari perbuatan seseorang yang tidak baik. Apakah nanti penulis akan menerima balasan berupa perlakuan orang lain yang tidak baik terhadap diri penulis. Hal tersebut muncul dan terbersit didalam hati. Kota Mekkah memang kota yang diberkahi oleh Allah SWT dan hal ini tidak terlepas dari doa Nabi Ibrahim.

Di dalam Al Quran surat Al Hajj ayat 25 Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ ۚ وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” Ayat ini, menurut penjelasan Syaikh as Sa’di, mengandung kewajiban untuk menghormati tanah Haram, keharusan mengagungkannya dengan pengagungan yang besar, dan menjadi peringatan bagi yang ingin berbuat maksiat[3].

Ketika penulis disana, sangat terasa keberkahan kota suci tersebut meskipun cuaca alamnya teramat sangat panas. Saat kembali ke hotel selepas sholat dhuhur di Masjidil Haram, penulis merasakan panas udara yang cukup tinggi. Layar penunjuk suhu udara di jalanan menunjukkan bahwa suhu mencapai 51 derajat celcius. Suhu tersebut sangat tinggi dan terasa panas menurut ukuran badan kita. Sehari hari di dunia pekerjaan di Jepang penulis sering melakukan kalibrasi climatic chamber atau oven, dan suhu 50 derajat celcius adalah suhu yang tidak aman bagi seseorang yang terpapar di dalamnya.

Dari ceramah tentang haji yang penulis simak, sangat dianjurkan sebelum berangkat menunaikan ibadah haji untuk meningkatkan berbagai amal sholeh. Saat itu penulis merasakan hanya sangat sedikit saja ibadah yang meningkat sehingga muncul kekhawatiran tidak bisa melaksanakan ibadah haji dengan baik karena sebelum keberangkatan masih sulit untuk mencoba meningkatkan amal ibadah dan terbayang dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan.

Dalam suatu kajian manasik haji yang diselenggarakan di Masjid Hiroo, salah satu pembicaranya yaitu Dr. Salifurrahman sangat menyarankan jamaah haji yang akan berangkat untuk membaca terjemahah atau tafsir ayat-ayat tentang haji, hadist dari Jabir ra yang cukup panjang tentang haji Rasulullah dan khutbah haji wada Rasulullah. Hal tersebut benar-benar penulis rasakan dapat semakin memantapkan bekal ruhiyah. Buku elektronik yang cukup lengkap pembahasannya sebatas pengetahuan penulis salah satunya adalah Seri Fiqih Kehidupan (6): Haji & Umroh yang ditulis oleh Ahmad Sarwat dan diterbitkan oleh DU Publishing pada tahun 2011 setebal 388 halaman. Hadist dari Jabir ra yang cukup panjang tentang haji Rasulullah dan khutbah haji wada Rasulullah dapat kita baca di buku tersebut.

Agar meresap sampai ke dalam ruh sanubari, penulis menonton berulang-ulang video ceramah yang menjelaskan tentang esensi dan hikmah haji. Video tersebut memberi pemahaman bahwa haji merupakan sesuatu yang luar biasa dan sangat erat kaitannya dengan tauhid. Prosesi haji dapat memurnikan ketauhidan pelakunya.

Salah satu ucapan yang disyariatkan untuk dibaca berulang-ulang dengan mengeraskan suara adalah kalimat talbiyah. “Labbaik Allahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda, wanni’mata, laka wal mulka laa syariikalak,” yang berarti “Aku sambut panggilan-Mu, aku sambut panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya kenikmatan, kerajaan, hanya milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.” Talbiyah inilah yang menjiwai ibadah haji dari awal sampai akhir.

Dalam talbiyah, seorang muslim berjanji dan bertekad bahwa segala pujian, nikmat, dan kerajaan hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka dalam ibadah, hanya ia niatkan kepada Allah, bukan untuk mencari pujian dari manusia. Ia tidak akan sombong serta lupa diri dengan pujian manusia, sebab ia meyakini bahwa pujian itu karena kelebihan, sementara kelebihan itu nikmat dari Allah, bukan miliknya. Maka ia mengembalikan segala pujian kepada Allah. Setiap kali dipuji ia mengatakan, “Ya Allah jadikanlah saya lebih baik dari apa yang mereka sangka dan ampunilah aku apa yang mereka tidak mengetahui dariku.” Kemudian dia menegaskan bahwa kerajaan dan kekuasaan hanya milik Allah maka segala kekuasaan hanya untuk menegakkan hukum Allah, karena manusia sebagai khalifah Allah yang bertugas menjalankan hukum Allah bukan membuat undang undang. Allah menegaskan bahwa diin (agama) yang benar hanyalah yang didasarkan tauhid ibadah kepada Allah, sedang tauhid ibadah hanya dapat diwujudkan jika mentauhidkan Allah dalam hukum, atau dengan kata lain menjadikan Allah sumber dari segala hukum[4].

Kira-kira dua atau tiga minggu sebelum keberangkatan, penulis mulai secara serius mengusahakan untuk melengkapi perlengkapan dan perbekalan haji. Dalam hal ini penulis sangat merasa terbantu oleh peran istri yang banyak berusaha untuk memenuhi perlengkapan dan perbekalan haji tersebut. Terkait dengan hal ini, informasi dari grup haji pada aplikasi Line sangat membantu, teman-teman saling memberikan informasi tentang barang-barang yang dibutuhkan saat menunaikan ibadah haji misalnya sabun dan sampo tanpa pewangi yang dapat digunakan saat berihram. Cerita tentang haji yang ditulis oleh para jemaah haji Indonesia yang pernah berangkat dari Jepang juga sangat membantu; ada yang berbagi cerita tentang daftar periksa (check list) barang bawaan dan time line saat kapan barang tersebut dibutuhkan.

Disela-sela melengkapi perbekalan, proses belajar tentang haji tetap terus berjalan. Alhamdulillah satu hal lagi yang dianugerahi pemahaman oleh Allah, yaitu tentang hubungan haji dan ketauhidan dari dzikir yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dibaca saat wukuf. Rasulullah SAW bersabda

“Sebaik baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang kukatakan dan para Nabi sebelumku ialah:

Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu. Lahulmulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syaiin qadiir.

‘Tidak ada Ilaah yang berhak disembah kecuali Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan dan untuk-Nyalah segala pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.'” (HR. Turmudzi No. 3585)

Nabi saw. menyatakan bahwa doa ini adalah doa terbaik, padahal di dalamnya tidak ada permohonan. Ini menandakan bahwa doa itu dua macam, yakni doa ibadah, dan doa permohonan, dan siapa yang tersibukkan dengan beribadah kepada-Nya dari memohon-Nya, Allah berikan kepadanya lebih baik dari apa yang diminta para hamba yang berdoa. Dalam doa di atas ada pengakuan bahwa pujian dan kerajaan hanya milik Allah, sedang kita adalah hamba-Nya. Maka doa di atas merupakan tekad untuk selalu berjuang menegakkan tauhid dan ibadah kepada Allah[5].

Waktu yang dinantikan akhirnya tiba juga, yaitu hari keberangkatan. Waktu untuk memantapkan hati menyerahkan jiwa raga (tawakal) kepada Allah. Ada pengalaman berkaitan dengan hal ini, ketika menghadiri suatu acara kajian manasik haji yang lokasinya agak jauh dari tempat tinggal yaitu sekitar 47 km dan belum pernah didatangi sebelumnya. Kajian manasik haji tersebut diselenggarakan di Masjid Nishi Chiba. Ketika berangkat untuk menghadiri kajian manasik haji ini, penulis menggunakan bantuan aplikasi Google Map yang memandu perjalanan dari rumah sampai stasiun kereta terdekat dengan masjid. Sebenarnya lokasi masjid berdekatan dengan stasiun kereta tetapi tidak seperti biasanya aplikasi tersebut tidak banyak membantu, hanya tahu saja kalau posisinya semakin menjauhi masjid yang dituju sehingga pencarian dilakukan dengan ditambah menggunakan insting perkiraan saja. Sehingga setelah agak lama mencari dan belum ketemu, maka saatnya bertanya harus dilakukan. Orang pertama yang ditanya meskipun kurang bias Bahasa Inggris tapi tahu maksud pertanyaannya dan mengisyaratkan jawaban tidak tahu lokasi yang penulis tanyakan. Kemudian mencoba mencari lagi dan belum ketemu, sehingga harus bertanya lagi ke orang kedua yang ditemui. Kali ini dia bisa berbahasa Inggris dan mengjawab dengan agak ragu tentang suatu lokasi. Dia mengatakan untuk mengikuti jalan ini kemudian di ujung perempatan belok kanan, dan tidak sampai kira-kira 100 meter kemungkinan lokasinya disitu. Setelah didatangi ternyata lokasi yang dicari tidak ketemu juga. Saat itu penulis teringat beberapa kisah Jemaah haji yang tersesat saat di Arab Saudi. Terbersit dalam hati untuk menyerahkan semuanya pada Allah sembari mengharapkan dengan sangat bantuan-Nya. Bentuk penyerahan ini saat itu penulis wujudkan dalam pikiran dengan menggantungkan atau mengaitkan diri pada sesuatu yang bergerak, tanpa penulis dapat mengendalikan pergerakannya, kemudian melanjutkan pencarian lokasi masjid tersebut. Setelah berputar putar di sekitar stasiun kereta tiba-tiba terbersit pikiran (semacam ada yang memberitahu) untuk mencoba mengambil arah menuju jalan sempit yang terdapat anak tangga menurun. Sepertinya jalan tersebut terlihat hanya mengarah pada suatu area seperti tempat pemujaan atau kuil. Setelah melewati tempat tersebut dan menoleh ke kiri, tiba-tiba terlihat masjid yang sedang dicari-cari. Akhirnya penulis dapat mengikuti kajian tersebut meskipun datangnya tidak bisa tepat pada waktunya. Dari pengalaman tersebut terpikir nanti saat akan berangkat menunaikan ibadah haji penulis akan melakukan hal yang sama sebagai upaya tawakal.  

Saat hari keberangkatan tiba, semua perbekalan sudah dimasukkan ke tempatnya masing-masing sesuai yang kami dapat informasinya dari teman-teman yang berhaji dari Jepang sebelumnya. Setelah mandi (seperti mandi besar) dan melakukan sunnah sebelum ihram, dilanjutkan sholat Sunnah safar dan tidak lupa berdoa untuk keluarga yang ditinggalkan.

أَسْتَوْدِعُكُمُ الله الَّذِيْ لا تَضِيْعُ وَ دَائِعُه

“Aku titipkan kamu sekalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipan‐Nya.” (HR. Ahmad II/403, Ibnu Majah no. 2825. Lihat Silsilah Ahaadits as‐Shahiihah no. 16)

Doa ini terasa sebagai ungkapan tawakal dengan menyerahkan keadaan keluarga hanya kepada Allah, mengurangi (kalau tidak dapat menghilangkan) beban pikiran terhadap keluarga yang ditinggalkan terutama anak yang masih kecil. Saat berangkat haji, penulis dan istri meninggalkan anak laki-laki berusia 6 tahun untuk diasuh kakak ipar yang sengaja dihadirkan ke Yamaguchi dan anak perempuan berusia 14 tahun yang ditinggal sendirian di apartemen di Yokohama. Saat baru tiba di Jeddah istri dapat kabar si kecil mendadak demam. Alhamdulillah dengan bantuan teman Indonesia anak kami diantar ke klinik untuk mendapatkan pengobatan dan selang sehari berikutnya sudah reda demamnya.

Disamping itu, dibaca pula doa safar yang salah satu redaksinya adalah “Ya, Allah! Sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini.” Lagi-lagi takwa perlu dimohonkan kepada Allah melalui doa. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan dorongan dan kemudahan dari Allah SWT dalam menggapai takwa; dan inilah yang disebut sebagai taufiq. Dalam doa yang disunahkan untuk dibaca oleh keluarga yang ditinggalkan kepada yang pergi berhaji adalah juga tentang permohonan agar yang berangkat haji dianugrahi takwa, “Semoga Allah memberikan bekal ketaqwaan kepadamu”.

 

Tentang penulis:

Ahmad Atsari Sujud lahir di Surabaya berprofesi sebagai calibration engineer sejak tahun 2001 sampai sekarang. Dengan pengalaman dibidang tersebut, penulis dapat mendampingi istri yang saat itu melanjutkan studi S3 di Yamaguchi University dengan bekerja pada perusahaan Jerman yang ada di Yokohama. Disela-sela aktifitas pekerjaan di Jepang, tetap menyempatkan memberikan pelatihan kalibrasi secara on-line bebas biaya bagi beberapa praktisi kalibrasi di Indonesia. Untuk bertukar pendapat, penulis dapat dihubungi di ahmad.sujud@yahoo.com. Ide dan gagasan berkaitan dengan kalibrasi dan metrology (ilmu pengukuran) sebagian dituangkan di http://kousei-tech.com/

 

[1] Musyahadah dapat diartikan sebagai penyaksian, dalam hal ini penulis maksudkan adalah penyaksian ke-Esa-an Allah SWT.

[2] https://rumaysho.com/3639-do-a-untuk-orang-yang-hendak-pergi-haji.html

[3] https://almanhaj.or.id/2578-keutamaan-kota-suci-mekkah.html

[4] Dr. H. Muh. Mu’inudinillah Bashri, Lc. MA., dan Elly Damaiwati, Kuketuk Pintu Rumah-Mu Ya Allah, Indiva Pustaka, Solo, 2009. h. 24

[5] Bashri, Op.Cit., h. 32-33

 

Tulisan ini telah disunting tanpa menghilangkan makna di dalamnya.
Foto ilustrasi dari Wikiepdia:
By Ali Mansuri, CC BY-SA 2.5, Link
1Comment
  • Gangsar Sulistyarto
    Posted at 08:47h, 22 August Reply

    SubhanAllah….., pencerahan yg sangat berguna bagi kami berdua utk mempersiapkan bekal sebaik baik bekal, berupa tawaqal.
    Semoga maksud tersebut diijabahi Allah SWT, Aamiin Ya Rabbal Alamin….

Post A Comment