Promia Jepang | PROTALKS, Belajar Investasi di Bidang Pertanian, Bagaimana Memilih dan Menilai Investasi Sehat (Part 1/2)
903
post-template-default,single,single-post,postid-903,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.1,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive

PROTALKS, Belajar Investasi di Bidang Pertanian, Bagaimana Memilih dan Menilai Investasi Sehat (Part 1/2)

Pada hari Ahad, 19 Juli 2020 yang lalu PROMIA kembali mengadakan PROTALKS (PROMIA Online Talks) yang mengangkat tema “Belajar Investasi di Bidang Pertanian, Bagaimana Memilih dan Menilai Investasi Sehat”. Alhamdulillah acara berjalan lancar dari pukul 09:00 hingga menjelang pukul 12:30 waktu Jepang berkat antusias peserta yang sangat tinggi. Sebanyak kurang lebih 50 peserta meramaikan Acara PROTALKS kali ini melalui media Zoom.

Pada kesempatan ini, PROTALKS yang dipandu oleh Aisar Labibi Romas (Engineer – National Instruments) menghadirkan dua narasumber, yaitu Rodiyan Gibran Sentanu, yang saat ini tengah berkiprah sebagai seorang konsultan di KPMG Healthcare Japan, dan Indra Purnama, yang merupakan lulusan S2/S3 Jepang dan kini berkiprah sebagai Petani Beras Sehat Basila disamping aktivitas lainnya termasuk menjadi Pak RW.

Belajar Memilih dan Menilai Investasi

Pemateri pertama, Mas Gibran, mengajak kita untuk belajar bersama bagaimana caranya untuk memilih dan menilai investasi yang baik, dengan mempelajari konsep-konsep sederhana bahkan yang akan mudah dipahami bagi peserta yang belum punya dasar ilmu akuntansi. Tiga poin utama untuk dibawa pulang oleh para peserta adalah:

  1. Pahami jenis skema (investor vs creditor)
  2. Pahami model bisnis (revenue and cost structures)
  3. Pelajari profitabilitas (profit and loss – P/L statement and projection)

Jenis skema investasi

Pemilik modal yang berniat investasi harus mengetahui pemilik modal berlaku sebagai investor atau kreditor. Kreditor merupakan skema investasi dimana pemilik dana memberikan pinjaman awal dengan tenggat waktu. Ini berarti, ketika tenggat waktu berakhir, dana pinjaman awal akan kembali dalam bentuk uang, ditambah dengan bagi hasil dari keuntungan yang dihasilkan dengan persentase sesuai kesepakatan dalam kontrak dan business plan pengusaha. Di sini mas Gibran memberikan satu contoh platform online yang menggunakan skema ini, yaitu iGrow.

Skema lainnya adalah sebagai investor. Dalam skema ini, modal utama uang yang diberikan oleh investor tidak dapat ditarik kembali, namun ia menjadi aset kepemilikan yang berbentuk saham. Risikonya lebih tinggi dibanding skema kreditor, karena jika perusahaan bangkrut, maka nilai sahamnya akan hilang. Sebaliknya, jika perusahaan berhasil berkembang, maka nilai saham akan naik, dan secara tidak langsung nilai aset milik kita sebagai pemberi modal pun bertambah.

Model Bisnis

Proses bisnis dan financial statement dijelaskan dengan penyampaian yang mudah dipahami, meliputi cost – nilai yang keluar untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas bisnis, revenue – nilai yang masuk dari customer, dan profit – nilai selisih dari keduanya. Ketiga kata kunci ini bisa kita temukan pada financial statement, atau bisa disebut juga dengan Profit/Loss Statement. Kita bisa belajar cara membaca laporan keuangan ini dengan coba mencari laporan-laporan keuangan perusahaan yang ada di pasar saham, karena laporan ini biasanya bisa ditemukan online.

Profitabilitas

Yang terakhir, calon investor juga harus menilai profitabilitas investasi yang akan dijalankan. Dengan memahami struktur sumber revenue dan jenis kegiatan dalam proses bisnis yang akan membutuhkan cost, kita akan bisa mengira-ngira alias membuat proyeksi atau simulasi P/L. Setidaknya dua poin yang harus diperhatikan dalam proyeksi P/L untuk melihat proyeksi perkembangan bisnis yaitu pendapatan dan net profit. Dengan melakukan ini dapat juga membantu kita menentukan prioritas ketika akan melakukan perbaikan atau pengembangan bisnis yang akan diinvestasikan. Mas Gibran sendiri menyampaikan bahwa beliau lebih suka untuk ikut aktif berperan dalam bisnis investasinya ketimbang hanya diam saja menerima hasil dari pengusaha di akhir. Tidak lupa disampaikan juga mengenai working capital, di mana ketika ingin investasi di bisnis riil, kita perlu melihat aliran dananya seperti apa, misalnya periode tanam pada investasi pertanian. Bagaimana modal kita digunakan, kapan kita bisa mulai dapat pemasukan atau keuntungan, apakah keuntungan tersebut akan digunakan lagi untuk produksi berikutnya, dan juga apakah bisa menutupi biaya-biaya di bulan-bulan awal memulai bisnis.

Investasi Pertanian di Indonesia

Pemateri berikutnya, Mas Indra, memaparkan tentang pertanian sebagai salah bentuk investasi yang bisa dilirik di Indonesia dan juga tentang pertanian yang berkelanjutan.

Mas Indra membuka sesinya dengan mengenalkan portofolio jenis usaha dan merek dagang yang beliau jalani yaitu CV. Bina Agro Mandiri, Agro Green Wisata, Beras Basila, dan PT. Basila (Bangun Indonesia Berkelanjutan). Kemudian Mas Indra juga menyebutkan jenis-jenis investasi yang umum di Indonesia lengkap dengan informasi return investasi berdasar hasil riset bursa efek. Disebutkan investasi saham memiliki rata-rata return tertinggi sebesar 13,3%, diikuti oleh investasi obligasi dengan return sebesar 8,96%. 

Mas Indra melanjutkan dengan menyiratkan pilihan investasi lainnya dengan pemaparan tentang pentingnya kita untuk menaruh perhatian pada pertanian di Indonesia, khususnya yang semakin jelas urgensinya dengan kehadiran Covid-19, selain juga data yang menyebutkan ada setidaknya 7 provinsi di Indonesia yang terancam krisis pangan. Di sini Mas Indra menekankan landasan berbagai jenis usaha yang beliau jalani yaitu untuk membangun pertanian yang berkelanjutan, dengan 3 tujuan utama berikut:

  1. Economic Profitability
  2. Environmental Health
  3. Social & Economic Equity

Kondisi Pertanian di Indonesia

Peserta PROTALKS disuguhkan dengan informasi seputar kesejahteraan petani dan pestisida. Disebutkan bahwa meskipun harga bahan pangan sering kali naik, itu tidak secara langsung meningkatkan kesejahteraan petani dikarenakan rumitnya rantai pasok yang berujung dengan tetap rendahnya harga bahan pangan di tingkat petani. Selain itu, semakin banyak petani yang keracunan dan sakit akibat tingginya penggunaan pestisida dalam pertanian di Indonesia.

Mengupayakan Beras Sehat

Mas Indra menjelaskan latar belakang usahanya untuk membuat beras sehat di Pekanbaru, yaitu adanya kendala-kendala dalam produksi beras organik. Terdengar simpel, tapi faktanya persyaratan untuk bisa melabeli produk pertanian ‘organik’ itu tidak mudah, karena selain pelaksanaan serta lahan pertanian yang harus memenuhi syarat, area di sekitar lahan pun harus memenuhi syarat tertentu. Dan untuk memenuhi syarat itu perlu biaya yang sangat tinggi sehingga sulit untuk bisa mengajak petani bergabung dalam upaya ini. Karena itu Mas Indra kini fokus mengajak para petani untuk bertani secara sehat, yaitu berangsur-angsur mengurangi penggunaan pestisida. Kini sudah ada sekitar 150 petani yang bersedia meninggalkan pestisida. Selain bertani, Mas Indra juga aktif mempromosikan ekowisata dengan mengajak pelajar sekolah turun langsung ke sawah. Dengan menyewa lahan petani, petani bisa memperoleh pendapatan dari menyewakan lahan dan digaji dengan bekerja di lahannya sendiri yang disewakan itu.

Value Chain

Kemudian Mas Indra menjelaskan value chain dari usaha yang beliau jalankan. Diantaranya dijelaskan jenis bibit dan pupuk yang digunakan; logistik untuk industri primer hingga sampai ke tangan konsumen. Disebutkan produk yang dihasilkan di industri primer adalah beras, dedak dan sekam. Nah, ternyata kata dedak ini sempat memancing diskusi di kolom chat Zoom. Kedepannya Mas Indra berencana mengembangkan usaha ke industri sekunder dan tersier. 

Keuntungan Pertanian Berkelanjutan

Keuntungan yang dirasakan tidak terbatas untuk investor, pengusaha, namun juga petani. Hal ini terwujud tidak hanya oleh dampak ekonomi yang terangkat, namun juga dari sisi perbaikan kondisi kesehatan petani. Ini karena petani secara bertahap meninggalkan penggunaan pestisida, di mana yang terkena dampak langsung dari pestisida adalah petani itu sendiri. Dengan berkurangnya kadar pestisida di lahan pertanian, kedepannya pun bisa diharapkan perbaikan kualitas air, dan manfaat lainnya untuk lingkungan.


Bersambung ke part 2/2..


Artikel disusun oleh Edhika Nurul Almi, Tika Laras Kusuma, dan Indra Putranto.

No Comments

Post A Comment