Promia Jepang | PROTALKS, Belajar Investasi di Bidang Pertanian, Bagaimana Memilih dan Menilai Investasi Sehat (Part 2/2)
918
post-template-default,single,single-post,postid-918,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.1,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive

PROTALKS, Belajar Investasi di Bidang Pertanian, Bagaimana Memilih dan Menilai Investasi Sehat (Part 2/2)

Berikut ini reportase lanjutan dari acara PROTALKS dengan tema “Belajar Investasi di Bidang Pertanian, Bagaimana Memilih dan Menilai Investasi Sehat” yang diadakan tanggal 19 Juli 2020 lalu.

Untuk bagian pertama silahkan merujuk melalui tautan ini.
PROTALKS, Belajar Investasi di Bidang Pertanian, Bagaimana Memilih dan Menilai Investasi Sehat (Part 1/2)

Setelah penyampaian materi dari masing-masing pembicara, moderator membuka sesi tanya jawab yang ternyata sangat ramai karena tingginya antusias peserta dan kemudian sebelum menutup rangkaian diskusi, moderator Mas Aisar memperkenalkan sebuah inisiatif baru PROMIA yang dinamakan “PROMIA INVESTA”. Ini bermula dari diskusi-diskusi santai yang secara berkala muncul ke permukaan di grup chat anggota PROMIA, hingga akhirnya dibentuklah inisiatif ini untuk menyediakan sarana belajar lebih jauh agar anggota PROMIA yang mungkin butuh dorongan, bisa lebih mantap untuk memulai kontribusi terhadap unit usaha di Indonesia melalui investasi. Disclaimer terkait peran PROMIA dalam inisiatif ini, PROMIA akan berperan sebagai fasilitator yang menampilkan pelaku usaha di Indonesia dan mempertemukan dengan calon investor yang berminat. Selebihnya, menjadi tanggung jawab pelaku usaha dan calon investor masing-masing. 

Kembali ke sesi tanya jawab, berikut ini kumpulan pertanyaan dan jawaban yang diwarnai dengan diskusi hangat antar peserta dan pembicara.

Q1: Apakah konsep beras organik atau beras sehat ini bisa menambah nilai jual beras? Pasarannya siapa?

Pendapatan dari harga gabah dan beras memang bisa lebih tinggi, tapi itu pun karena adanya upaya keras para petani. Di awal-awal mengapa harga jual bisa tinggi karena ada faktor biaya produksi yang tinggi, harus menggunakan pupuk lebih banyak, mencabut rumput sendiri, dll. Di samping itu hasil produksi berasnya menurun dibandingkan dengan pertanian konvensional yang bisa mencapai 6-10 ton per hektar. Beras organik atau beras sehat bisa dipasarkan dengan harga hingga 18 ribuan rupiah per kilogram. Jadi ada pendapatan yang berlebih untuk bisa ditabung oleh petani, karena mereka diupah untuk bekerja di lahannya sendiri. Target pemasaran beras basila adalah restoran-restoran dan langsung ke masyarakat melalui supermarket dan juga reseller.

Jika ada yg mau berinvestasi, dananya bisa digunakan untuk mempekerjakan orang untuk urusan administrasi yang saat ini dihandle oleh Mas Indra dan istri. Dengan begitu Mas Indra bisa lebih fokus untuk memperluas pemasarannya.

Q2: Apakah dalam investasi pertanian ada parameter yang bisa diukur untuk mengukur seberapa banyak modal yang mampu diputar untuk mendapat profit? Bagaimana untuk menilai ROI dari pertanian?

Saya (Mas Gibran) belum punya banyak pengalaman dalam dunia pertanian. Namun saya sudah diskusi dengan Mas Indra tentang perkiraan net profit dan berapa yang bisa kita berikan ke investor. Ketika kita bicara net profit sebagai investor, kita akan punya saham dan berpikir jangka panjang. Selain dapat dividen, nilai saham juga akan berubah. Tapi kalau sebagai kreditor sejak awal sudah ada asumsi dan perkiraan keuntungan sekian persen. Cara paling gampang pakai modal masing-masing. Pengusaha (lahan, pembeli, koneksi, dll) katakanlah setelah dihitung nilainya 900 juta. Investasi yang dibuka 100 juta. Keuntungan setelah panen 30 juta. Jadi bagi hasil untuk investor adalah 10% (porsi modal), maka keuntungan sekitar 3 juta.

Q3: Adakah contoh platform online yg dimana kita bisa investasi pertanian?

Kedua pembicara hanya tahu iGrow, dan kabarnya termasuk yg tidak jauh meleset dari target. Dari peserta terdengar juga platform lainnya seperti TaniFund, GROWPAL, Vestifarm.

Q4: Seberapa lebih mahal kah bertani secara organik atau sehat dibandingkan dengan bertani konvensional? 

Pertanian organik itu yang berat adalah di awal-awal karena harus mengembalikan kondisi tanah agar subur, cacing-cacing muncul lagi. Belum lagi produksi menurun karena lahan kita jadi diserang hama. Hal ini bisa diatasi dengan membuat padi sehat, tanahnya sehat, sehingga nanti hama bisa terlawan otomatis dari sistem yg sehat itu, dan berbuah hasil produksi maksimal. Mungkin saja harga beras nanti bisa lebih murah.

Q5: Potensi untuk organik seberapa besar di Indonesia dalam skala nasional, khususnya beras organik? 

Masyarakat kita masih mencari yang murah, entah sehat atau tidak. Sehingga harus diawali dengan edukasi masyarakat.

Namun memang harga mahal itu merupakan tantangan, padahal harga mahal bukan untuk keuntungan semata, ada value yang penting didalamnya. Harapannya dengan pertanian sehat yang berkelanjutan akan bisa membuat harga beras organik atau sehat lebih murah.

Sebenarnya ini tugas pemerintah untuk memastikan beras yg dimakan masyarakat adalah beras sehat. 

Sementara untuk potensi pasar organik itu sendiri, mungkin saat ini masih sangat sempit, untuk kelas menengah ke atas.

Q6: Apakah Mas Indra bergerak dalam memperbaiki supply-chainnya juga? Kalau iya, bagaimana pengalaman dengan “preman” yang biasanya bermain di sini?

Saya di rantai pasok itu berusaha untuk memutus rantai supply yang panjang ini. Benar bahwa yang dihadapi adalah spekulan, tengkulak besar, yang punya banyak preman. Beras oplosan itu banyak sekali, bahkan tidak ketahuan. Di Pekanbaru ada yang sempat tertangkap juga. Jadi beras oplosan ini adalah campuran beras kualitas rendah dan yang agak bagus kemudian dijual lebih mahal.

Sekarang ini kita hanya mencari petani yang tidak ada hubungan dengan “preman” ini karena kenyataannya banyak petani yang bergantung dengan tengkulak, dimana petani dipinjami modal awal tapi berasnya dihargai dengan harga sangat rendah. Jadi kita berusaha mencari petani yang tidak terlibat dengan mereka. Kita juga berharap hati mereka tergerak dan bisa berubah tanpa memerangi mereka.

Q7: Apakah ada rencana untuk mengarah ke ‘bisnis perantara’, jadi bukan murni organik, namun racun  dan kimia dikurangi, dan harga lebih terjangkau? 

Sebenarnya kami juga tidak menyebutnya organik untuk saat ini, namun beras sehat. Bertani tanpa pestisida, sekalipun ada jumlahnya sangat minimal, 2-3 kali semprot per musim tanam sehingga produksi tidak turun terlalu drastis. Untuk yang konvensional rata-rata penyemprotan 15 sampai 20 kali. Dalam 2-3 tahun ke depan kita akan melakukan tes analisa pestisida.

Q8: Di Indonesia, ada kasus investasi pertanian bodong yang berulang. Apakah Mas Indra mengarah ke revenue sharing atau profit sharing? Dan bagaimana langkah mitigasi kerugian?

Pertama soal untuk memitigasi kerugian, yaitu salah satunya gagal panen, yaitu dengan mengkaji secara detail di tiap tahap pertanian, mulai dari bibit untuk penyemaian, cuaca saat mulai menanam, dll. yang bisa mengurangi risiko gagal panen.

Terkait revenue sharing atau profit sharing, Mas Indra akan mengambil langkah diskusi dengan investor. 

Sempat ada diskusi yang cukup spesifik nih soal istilah revenue sharing ini. Disebutkan oleh Mas Gibran kalau revenue sharing nanti pengelola kebobolan besar donk, karena biasanya yang dikejar adalah profit sharing. Penanya, Mas Awang, dari pengalaman dulu di bank syariah yang dibagi hasil adalah revenue atau omset. Memang kadang yang lebih untung banknya.

Untuk profit sharing, memang perlu keterbukaan soal cost supaya pemberi modal bisa melakukan proyeksi P/L. Nah, apa sih istilah yang paling tepat untuk bagi hasil dalam syariah? Dalam diskusi kali ini, berdasar konteks bisa kita sebut sebagai profit and loss sharing.

Sebenarnya obrolan ini masih berlanjut panjang tapi mungkin bisa kita ulas lagi nanti waktu ada sesi khusus yang membahas sistem di bank syariah.

Q9: Berapa lama waktu yg dibutuhkan untuk mengubah lahan konvensional menjadi organik?

Berdasarkan hasil riset dan pengalaman banyak orang perlu waktu sekitar 2 sampai 3 tahun.

Q10: Untuk sertifikasi organik cukup terkait dengan lahan di sekitarnya. Jika lahan sekitarnya belum bebas dari pestisida, yang mempengaruhi juga kadar pestisida pada air di daerah tersebut. Bagaimana prospek pertanian Mas Indra ketika masih ada lahan sekitar yang bertani secara konvensional atau non-organik?

Prospek sangat baik. Ilmu pertanian organik sudah dipahami oleh petani. Masalah yang dihadapi saat ini adalah pemasaran dan pendampingan. Pernah ada sarana prodi penanaman jagung yang difasilitasi untuk ke arah organik, namun setelah panen dilepas oleh yang memfasilitasi sehingga harga jualnya rendah. Ini berujung pada para petani tidak melanjutkan. Ketika mas Indra turun ke lapang, para petani senang dan bahkan mengharapkan dan meminta mas Indra untuk membimbing mereka.

Ada petani yg berpikir bahwa kalau harga segini (harga beras sehat saat ini), kalangan menengah ke bawah tidak bisa makan juga, padahal kita ingin supaya kalangan menengah ke bawah juga bisa makan beras sehat ini.

Untuk potensi, penyebaran tentang beras sehat ini sangat cepat dari mulut ke mulut. Banyak petani yang kemudian ikut dalam proyek ini setelah melihat sendiri bukti perbaikan.


Artikel disusun oleh Edhika Nurul Almi dan Indra Putranto.

No Comments

Post A Comment