Promia Jepang | Reportase Diskusi Ilmiah – Indonesia Menyambut Era Mobil Listrik (1/2)
828
post-template-default,single,single-post,postid-828,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.1,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive

Reportase Diskusi Ilmiah – Indonesia Menyambut Era Mobil Listrik (1/2)

Mas Aisar mengawali bahasan mobil listrik

Pada tanggal 6 Oktober 2019 PROMIA mengadakan diskusi bertemakan “Indonesia menyambut era mobil listrik” dengan memanggil tiga narasumber:

1. Aisar Labibi Romas (Konsultan Otomotif di perusahaan Optimal+)
2. Ricky Elson (Penggiat dan Teknokrat Mobil Listrik Indonesia)
3. Dr. Muhammad Aziz (Associate Professor di Universitas Tokyo)

Industri Otomotif Di Indonesia

Di sesi pertama Mas Aisar Labibi Romas menjelaskan tentang  Industri otomotif di Indonesia dan kesiapannya di era mobil listrik. Di tahun 2018, Indonesia memproduksi 1.3 juta mobil (terbesar ke-6 di Asia Pasifik). Tetapi angka ini bukanlah pelaku utama banyaknya fenomena kemacetan di kota-kota besar di Indonesia mengingat tidak semua mobil yang diproduksi di Indonesia dipasarkan di Indonesia. Faktor besar lain adalah kurangnya infrastruktur jalan raya di kota-kota besar.

Meskipun banyak yang bilang kalau bisnis otomotif lebih banyak dipegang asing dibanding dengan dalam negeri, sebenarnya kepemilikannya sekitar 50:50. Contoh Toyota dan Daihatsu berpartner dengan perusahaan Indonesia Astra menjadi Toyota Astra Motor dan Astra Daihatsu Motor. Mobil yang diproduksi di Indonesia dilaporkan memiliki suku cadang lokal antara 30 ~ 90%. Salah satu produsen baterai terkemuka di Indonesia, CBI (Century Batteries Indonesia), semua design, pengerjaan, pekerja, semuanya adalah dari orang or buatan Indonesia.

Masuk ke industri mobil listrik, tantangan terbesar bagi Indonesia untuk memulai Industri ini adalah:

1. Mobil listrik lebih mahal  rata-rata 150 jt rupiah dari mobil gasoline;
2. Investasi yang sangat besar untuk RnD dan manufaktur;
3. Permintaan yang belum terbukti dari pasar (dipengaruhi oleh harga minyak dan sebagainya)
4. Dukungan dari pemerintah

Namun demikian dari semua tantangan itu, Indonesia sudah mulai berprogres menuju perkembangan yang positif. Kalimat penutup dari Mas Aisar adalah:

“Indonesia memang terlambat dalam memulai Industri mobil listrik ini, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”

Tantangan Pengembangan Kendaraan Listrik Di Indonesia

Sesi kedua dilanjutkan oleh Pak Ricky Elson yang bertemakan “Tantangan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia”. Sesi ini dimulai oleh tantangan beliau kepada para profesional yang akan menjadi penggerak generasi sekarang, apakah kita baik-baik saja hanya menjadi “generasi unboxing” yang artinya hanya menerima barang, dan merasa puas dengan hal itu.

Beliau yakin bahwa dengan kemauan yang kuat, mobil listrik dapat dibuat oleh beberapa orang saja, mulai dari design sampai menjadi produk nyatanya. Beliau bercerita ketika beliau dan timnya mendapatkan tantangan dari Prof. Hayashi dari Tokai University, untuk mengikuti kompetisi Le Mans 24, dengan syarat bagaimana memasukkan elektrik motor kedalam ruang mesin untuk membuat teknologi Super Hybrid. Dari situlah dimulainya perjalanan beliau menggeluti dunia mobil listrik.

Beliau mengiyakan pernyataan Mas Aisar mengenai saham dalam negeri industri mobil di Indonesia ada di angka 50:50 dibanding dengan saham asing, tetapi kita masih kekurangan orang-orang yang terlibat sebagai penggerak di bidang kendaraan listrik. Untuk menumbuhkan generasi penggerak, maka harus mulai mengajak anak2 muda untuk berkecimpung, dengan cara mengenalkan mobil listrik dengan konsep yang sangat simpel seperti: Mobil listrik = tamiya yang bisa dikendarai. Karena komponen Tamiya kurang lebih sama dengan mobil listrik: gear box, battery socket-battery, motor penggerak, brushed DC motor. Ketika ketertarikan itu sudah ada, maka mulailah tantang anak muda indonesia dengan cara: Daripada berdebat harganya mahal, baterai yang tidak tahan lama, lebih baik fokus pada bagaimana mengurangi biayanya, mengecilkan ukuran mesinnya, menaikkan efisiensi dan sebagainya.

Pak Ricky Elson menantang para profesional yang hadir

Berbeda dengan mesin mobil, yang sampai hari ini meskipun kita sudah merakitnya, kita tidak dapat kesempatan untuk membuatnya, tapi untuk motor listrik, kita pasti bisa. Karena komponen motor listrik hanyalah besi, tembaga, magnet dan insulator. Bagi kita inilah tantangan ilmu pengetahuan, tantangan manusia untuk mengejar batasnya sampai dimana bisa maju, dengan keadaan yang terbatas.

Lalu Pak Ricky melanjutkan ceritanya mengembangkan mobil listrik Selo di Indonesia dengan Pak Dahlan Iskan, yang tidak selalu lancar, karena ketika test drive di jalanan mengalami kecelakaan. Pada saat itu, segala perjuangan beliau seakan hilang karena pada akhirnya hanya dianggap kriminal karena dianggap seharusnya dilakukan uji kelayakan dulu sebelum dibawa ke jalan raya. Tapi pada saat itu karena keterbatasan biaya, beliau tidak ada pilihan lain. Pada saat itu yang beliau punya hanyalah semangat dan harga diri. Prinsip beliau adalah selalu syukuri dan optimalkan segala hal yang dimiliki.

Setelah itu Selo dibawa ke KTT APEC, dan dilakukan ujicoba bersama kemenristek. Meskipun relatif tanpa hambatan, tapi tetap saja reaksi media tetap tidak mendukung. Namun lagi-lagi beliau tidak merasa itu sebagai alasan untuk menyerah. Harapan beliau bukanlah untuk membuat pabrik mobil listrik, melainkan ingin mengajak generasi-generasi muda untuk ikut serta dalam pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, supaya bangsa kita tidak lagi menjadi sekedar generasi unboxing. Meskipun dengan ranah terbatas, beliau telah memulai proyek Selo generasi ke-2 dimulai dengan partner baru. Selo kedua ini dengan teknologi dan design yang di-upgrade.

Pesan terakhir dari Pak Ricky, bahwa mobil listrik Selo hanyalah ikon. Tujuan utama proyek beliau adalah untuk mengajak generasi muda Indonesia agar ikut serta dalam membangun peradaban teknologi di dunia. Dimulai dari kita, emngajak sebanyak mungkin generasi-generasi baru dalam semangat Spirit of enjoyneering!

Artikel selanjutnya: Indonesia Menyambut Era Mobil Listrik (2/2)

No Comments

Post A Comment