Promia Jepang | Reportase Diskusi Ilmiah – Indonesia Menyambut Era Mobil Listrik (2/2)
833
post-template-default,single,single-post,postid-833,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.1,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive

Reportase Diskusi Ilmiah – Indonesia Menyambut Era Mobil Listrik (2/2)

Suasana Diskusi Ilmian

Tren Mobil Listrik

Artikel sebelumnya: Indonesia Menyambut Era Mobil Listrik (1/2)

Sesi ketiga dilanjutkan oleh Dr. Muhammad Aziz dengan tema “Tren mobil listrik dan Teknologi vehicle-to-grid (V2G/VGI)”. Beliau menceritakan tentang tren market EV di Jepang belum signifikan, permasalahannya karena Toyota dan Honda masih sangat dominan ke bisnis fuel cell vehivle (FCV) nya, disisi lain Nissan dan Mitsubishi sudah memulai pengembangan mobil listriknya. Jadi pemerintah dalam hal pembuatan kebijakannya masih belum bisa berfokus pada hanya satu sisi saja (antara fuel dan listrik).

Masalah terbesar mobil listrik adalah waktu untuk charging, sekarang masih membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sedangkan yang kita inginkan adalah kecepatan charging yang bisa menyaingi kecepatan ketika mengisi bahan bakar. Tesla sedang berusaha mengembangkan teknologi untuk mempesingkat waktu pengisian ini. Semua perusahaan pembuat mobil berkomitmen agar semua mobil berpindah ke EV sampai tahun 2020-2030. Toyota sebagai automaker terbesar memegang peran penting dalam bisnis konversi ini.

Dari segi kebijakan negara, beberapa negara pun sudah memiliki target untuk mengurangi emisi dari kendaraan berbahan bakar. Contoh Norwegia menargetkan emisi nol pada tahun 2025; India akan berpindah ke EV sampai tahun 2030; dan Denmark akan melarang penjualan mobil berbahan bakar gas dan diesel sampai tahun 2030. Contoh untuk kasus Denmark, mereka tidak punya power storage. Mereka memilih untuk langsung mengadopsi mobil listrik, dan menyerahkan kepada market untuk memutuskan apakah mereka akan menjadi produser atau konsumer listrik.

Masuk ke pembahasan tentang VGI (Vehicle-Grid Integration). VGI adalah teknologi dimana kendaraan listrik (vehicle) dapat menyediakan daya ke jaringan (grid) dalam menanggapi tuntutan peak load. Tergantung pada permintaan, EV dapat mengisi (charge) atau mengeluarkan (discharge) daya; oleh karena itu, EV dapat dilihat sebagai perangkat penyimpanan raksasa.

Mobil listrik sudah memiliki koneksi wireless, jika ada operator yang disebut agregator, maka kita bisa mengkoneksi semua mobil2 listrik menjadi satu baterai yang besar. Teknologi agregator dapat melihat potensi daya yang mereka punya, mem-bidding, dan menjual listrik dari mobil-mobil listrik yang ada. Bisa disambungkan ke rumah dan tempat2 lain tergantung chargernya tersambung kemana.

Tetapi masalahnya jika melakukan bisnis VGI sekarang masih tidak menguntungkan, karena pajak akan diambil pada saat charge dan discharge. Oleh karena itu ajuan dari Dr. Aziz dan timnya adalah bagaimana supaya pajak diambil secara total, pada saat jual beli listrik terjadi di akhir, tergantung keuntungan yang didapat. Tantangan bagi Indonesia di bisnis VGI ini adalah tingginya beban listrik pada saat puncak (jam 5 sore-10malam); masih rendahnya kualitas listrik dan kapabilitas penyeimbangannya; tidak adanya energy storage dan sebagainya.

Seminar kali ini ditutup dengan sesi tanya jawab dengan para narasumber. Pertanyaannya antara lain adalah:

  1. Untuk Indonesia apakah lebih baik membangun energy storage dulu apa langsung terjun ke bisnis EV?

    Dr. Aziz: Indonesia belum punya resource untuk membangun energy storage. Hanya bisa bikin baterai dulu. Jika Indonesia nekat untuk membuat storage, belum tentu kita bisa menyelesaikannya meskipun menyerahkannya ke swasta. Sebagai perbandingan, Jepang pun masih menggunakan generator  untuk menyeimbangkan supply dan demand nya. Ditambah costnya yang sangat mahal.
     
  2. Kenapa indonesia tidak mencoba memulai dari kendaraan kecil seperti bajaj atauangkot, mengingat faktor safety dll yang lebih simpel pengembangannya dibandingkan kendaraan pribadi. Pak Aisar: Dari segi industri, tergantung ada apa tidaknya market dan seberapa mahal harganya. Apakah akan lebih murah jika dibanding dengan bajaj/angkot dengan tenaga BBM.

    Pak Ricky: Kesiapan kelistrikan Indonesia masih jauh dari siap. Tapi kita bisa mempersiapkan SDM selama 10 tahun kedepan ini. Kita tidak perlu unggul di bagian produksinya, tapi ambil bagian di bagian maintenance dan pengelolaannya. Maka dari itu diperlukan SDM yang bisa mengusulkan ke pemerintah untuk melegalkan Undang-Undang membolehkan konversi mobil listrik. GRAB sudah mulai bisnis startup di kendaraan listriknya, oleh karena itu sebenarnya sudah tersedia peluang-peluang jika ada peserta yang mulai berpikir untuk memulai bisnis startup konversi listrik.

    Pak Aisar: Konversi listrik adalah bisnis yang sangat menarik, idenya sederhana. Tapi tetap harus memikirkan tentang keamanannya. 
     
  3. Tips-tips untuk startup otomotif di indonesia. 

    Pak Ricky: Startup itu pemicu jiwa entrepreneurship. Yang penting ada ide dulu, yakin, realisasikan. Beliau memberi saran kepada penanya yang masih berumur 25 tahun untuk persiapkan ide sematang-matangnya dan kumpulkan rekan orang-orang visioner sebanyak-banyaknya sampai umur 30 tahun, dan wujudkan bersama mereka kedepannya.

    Dr. Aziz: sambil mempersiapkan ide bisnis, bisa cari kesempatan venture dari kampus. Jangan hanya liat kampus sebagai tempat research, tapi juga kesempatan venture. Beberapa kampus menyumbang 30% bahkan sampai 100%.
No Comments

Post A Comment