Promia Jepang | Roket Epsilon, Generasi Terbaru Roket Pengantar Satelit
322
post-template-default,single,single-post,postid-322,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.1,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive

Roket Epsilon, Generasi Terbaru Roket Pengantar Satelit

Ditulis oleh Dedy Eka Priyanto *)

Setelah mengalami 2 kali penundaan, Jepang baru-baru ini telah berhasil meluncurkan roket generasi terbaru pengantar satelit (mengirim satelit dari bumi ke angkasa), epsilon. Roket epsilon yang dikembangkan oleh JAXA (Badan Antariksa Jepang) dan IHI Aerospace ini menggunakan bahan bakar padat dan diklaim sebagai roket paling pintar di dunia saat ini karena dilengkapi sistem artificial intelligence (kecerdasan buatan). Tidak seperti roket generasi pertamanya, M-V, yang dihentikan kelanjutannya akibat biayanya yang meroket, roket epsilon ini diklaim berbiaya lebih terjangkau sehingga membuka peluang pengembangan roket pengantar satelit murah.

Roket berbahan bakar padat

Roket penghantar saterlit berbahan bakar padat ini terbilang baru, karena pada umumnya roket yang diluncurkan selama ini adalah berbahan bakar cairan gas. Perbedaan antara roket berbahan bakar padat dan cair bisa dilihat pada gambar 1. Roket berbahan bakar cair menggunakan cairan gas hydrogen dan gas oxygen yang disimpan pada tank terpisah yang kemudian dialirkan ke tank pembakaran melalui pipa. Sedangkan roket berbahan bakar padat umumnya menggunakan campuran polybutadiene dan ammonium perklorat sebagai bahan bakarnya yang diletakkan pada tank yang sama dengan tank pembakaran.

struktur-roket

Gambar 1. Struktur roket berbahan bakar padat dan cair

(Sumber : http://spaceinfo.jaxa.jp/ja/solid_liquid_rockets.html, dengan perubahan)

Roket berbahan bakar cair memiliki kelebihan utama yaitu kemudahan dalam mengkontrol proses pembakaran bahan bakar sehingga mampu mengkontrol kecepatan dan posisi roket selama peluncuran secara tepat. Roket ini juga mampu membawa satelit berskala besar. Namun, roket jenis ini memiliki kekurangan seperti, struktur roket yang rumit dan persiapan peluncuran yang memakan waktu sekitar sebulan.

Sedangkan roket berbahan bakar padat memiliki kelebihan seperti ringan, strukturnya yang simple, dan biaya yang relatif murah, serta waktu persiapan peluncuran yang hanya memerlukan waktu seminggu. Namun kekurangannya adalah ketepatan dalam pengiriman ke orbit yang ditentukan karena tidak bisa mengkontrol proses pembakaran bahan bakar, sekali dibakar tidak bisa dimatikan dan dihidupkan kembali.

Untuk mengatasi masalah ini, roket epsilon dilengkapi juga dengan mesin kecil berbahan bakar cair, untuk membantu pengaturan posisi roket lebih detail sehingga kemampuannya meletakkan satelit pada orbitnya tidak kalah dengan roket berbahan bakar cair pada umumnya.

Artificial Intelligence

Yang paling membedakan roket epsilon dengan roket generasi sebelumnya atau roket pada umumnya adalah roket ini dilengkapi dengan artificial intelligence yang untuk pertama kalinya di dunia. Layaknya manusia, roket ini teknologi pemeriksaan otomatis yang mampu memeriksa dirinya sendiri apakah ada masalah dan layak untuk diluncurkan atau tidak. Selain itu, proses pemeriksaan ini bisa dipantau secara online dengan 1 komputer saja.

 suasana-peluncuran

Gambar 2. Suasana Peluncuran roket generasi pertama, M-V dan roket epsilon

(Sumber : http://www.jaxa.jp/article/interview/vol58/)

Ketika percobaan peluncuran kedua tanggal 27 Agustus lalu, roket epsilon ditunda peluncurannya karena 7 detik sebelum peluncuran, roket mendeteksi adanya masalah dan secara otomatis memberhentikan peluncuran. Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh JAXA diketahui bahwa adanya perbedaan waktu 0.07 detik antara alat perhitungan di roket dan alat di ruang monitoring. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pemeriksaan otomatis memungkinkan untuk dikembangkan pada roket.

Selama ini proses yang paling banyak memakan waktu dan tenaga adalah proses pemeriksaan roket. Pada generasi pertama roket jenis ini, M-V, diperlukan waktu 2 bulan dan 100 orang. Sedangkan pada roket epsilon dengan artificial intelligence yang dimilikinya, waktu pemeriksaan bisa dihemat menjadi hanya seminggu dan cukup memerlukan 8 orang saja.

Dengan pendeknya waktu persiapan dan jumah orang yang dibutuhkan, roket epsilon berhasil menghemat biaya peluncuran menjadi hanya 370 juta yen (39 miliar rupiah), jauh lebih murah dibanding generasi sebelumnya yang memakan biaya 750 juta yen atau biaya peluncuran roket satelit pada umumnya yang memakan biaaya sekitar 500 juta yen (52 miliar rupiah).

Pengembangan roket epsilon ini telah membuka lembaran baru bagi pengembangan roket yang murah dan pintar.

*) Direview oleh Alfian Busyro.

*) Penulis adalah seorang Researcher yang bekerja untuk IHI Corporation.

Penulis dapat dihubungi melalu e-mail :  dedy1214@gmail.com

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.